Rabu 20 Dec 2023 14:46 WIB

Pemimpin Hamas akan Kunjungi Mesir Bahas Gencatan Senjata 

Hamas bersedia terlibat dalam semua upaya yang bertujuan mengakhiri agresi di Gaza.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Setyanavidita livicansera
Pejuang Hamas menaiki truk bantuan kemanusiaan di Rafah, Jalur Gaza, Selasa, 19 Desember 2023.
Foto: AP Photo
Pejuang Hamas menaiki truk bantuan kemanusiaan di Rafah, Jalur Gaza, Selasa, 19 Desember 2023.

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA – Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh diagendakan mengunjungi Mesir pada Rabu (20/12/2023). Dia disebut akan mengadakan pembicaraan mengenai gencatan senjata di Jalur Gaza dan pertukaran tahanan dengan Israel.

Seorang sumber yang dekat dengan Hamas mengungkapkan, dalam lawatannya ke Mesir, Haniyeh didampingi delegasi tingkat tinggi Hamas. Nantinya mereka akan melakukan pembicaraan dengan Kepala Badan Intelijen Umum Mesir Abbas Kamel dan pejabat lainnya.

Baca Juga

“Mereka akan membahas menghentikan agresi dan perang guna mempersiapkan kesepakatan bagi pembebasan tahanan (dan) berakhirnya pengepungan yang diberlakukan di Jalur Gaza,” ujar sumber yang enggan dipublikasikan identitasnya tersebut, dikutip Al Arabiya, Selasa (19/12/2023).

Selain penghentian agresi, Haniyeh dan delegasinya disebut akan turut membahas tentang pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza. Selain itu, pulangnya para pengungsi di Gaza ke rumah mereka di wilayah utara dilaporkan bakal ikut didiskusikan.

Kunjungan Haniyeh ke Mesir akan menjadi yang kedua sejak pecahnya pertempuran di Gaza pada 7 Oktober 2023. Lawatan pertamanya ke Kairo terjadi pada awal November lalu. Selama ini Mesir dan Qatar telah menjadi mediator utama dalam perundingan antara Hamas dan Israel.

Sementara itu, pada Selasa (19/12/2023), Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan, dia baru saja mengutus Direktur Mossad (badan intelijen Israel) David Barnea ke Eropa. Barnea ditugaskan mempromosikan proses pembebasan para sandera yang ditahan Hamas. “Saya tidak akan menyia-nyiakan upaya mengenai masalah ini (pmebebasan sandera), dan tugas kita adalah mengembalikan mereka semua,” ujar Netanyahu dalam sebuah pernyataan.

Netanyahu mengatakan, menyelamatkan para sandera yang masih ditahan Hamas merupakan tugas tertinggi. Pada 24 November hingga 1 Desember 2023 lalu, Israel dan Hamas sempat memberlakukan gencatan senjata kemanusiaan. Selama periode tersebut, kedua belah pihak melakukan pertukaran pembebasan tahanan dan sandera. Hamas membebaskan 105 sandera.

Mereka terdiri dari 80 warga Israel dan sisanya adalah warga asing. Sebagai imbalan atas pembebasan para sandera, Israel membebaskan 210 tahanan Palestina. Pada 9 Desember 2023 lalu, Israel mengatakan Hamas masih menahan 137 sandera di Gaza.

Para sandera diculik Hamas ketika melakukan operasi infiltrasi ke Israel pada 7 Oktober 2023. Sementara itu Hamas menolak terlibat dalam negosiasi pembebasan sandera dengan Israel sebelum agresi di Jalur Gaza dihentikan total. Hamas pun menuntut Israel mengikuti persyaratan yang diajukannya.

“Tidak akan ada negosiasi mengenai kesepakatan pertukaran tahanan kecuali ada penghentian total agresi terhadap Jalur Gaza dan kepatuhan terhadap syarat-syarat (kelompok) perlawanan (Hamas),” kata anggota Politbiro Hamas Osama Hamdan dalam sebuah konferensi pers di Beirut, Lebanon, Kamis (14/12/2023), dikutip Anadolu Agency.

Dia menekankan, Hamas bersedia terlibat dalam semua upaya yang bertujuan mengakhiri agresi di Gaza dan Tepi Barat, membebaskan para tahanan Palestina dari penjara-penjara Israel, serta membangun kerangka nasional untuk pemulihan hak-hak nasional, yang mengarah pada pembentukan negara Palestina merdeka dengan ibu kotanya di Yerusalem. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement