Kamis 04 Jan 2024 14:41 WIB

Hizbullah Siap Balas Kematian Wakil Pemimpin Hamas yang Dibunuh Israel

Lebanon tetap berkomitmen terhadap legitimasi internasional yang relevan.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Setyanavidita livicansera
Pekerja membawa kabel listrik lewat di depan sebuah gedung apartemen tempat serangan Israel di pinggiran selatan Beirut yang merupakan kubu Hizbullah, Lebanon, Rabu, (3/1/2024).
Foto: AP Photo/Hussein Malla
Pekerja membawa kabel listrik lewat di depan sebuah gedung apartemen tempat serangan Israel di pinggiran selatan Beirut yang merupakan kubu Hizbullah, Lebanon, Rabu, (3/1/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT – Kelompok Hizbullah Lebanon memperingatkan bahwa mereka tidak akan membiarkan pembunuhan wakil pemimpin Hamas, Saleh al-Arouri, oleh Israel berlalu begitu saja. Hizbullah, yang sejak pecahnya perang di Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023 turut terlibat konfrontasi dengan Israel di perbatasan Lebanon, mengisyaratkan siap membalas kematian Arouri.

“Pembunuhan Arouri adalah kejahatan besar dan berbahaya yang tidak bisa kami diamkan,” ujar Sekretaris Jenderal Hizbullah Hassan Nasrallah dalam pidatonya yang disiarkan di televisi, Rabu (3/1/2024).

Baca Juga

Dia bersumpah, tidak akan ada batasan dan tidak ada aturan dalam perjuangan kelompok Hizbullah jika Israel memilih untuk melancarkan perang terhadap Lebanon. “Siapa pun yang berpikir untuk berperang dengan kami, dengan kata lain, dia akan menyesalinya,” ujar Nasrallah.

Sebelumnya Penjabat Perdana Menteri Lebanon Najib Mikati turut mengutuk serangan pesawat nirawak (drone) Israel ke Beirut yang membunuh wakil pemimpin Hamas, Saleh al-Arouri. Dia menilai, serangan tersebut merupakan upaya untuk menarik Lebanon lebih jauh ke dalam konflik antara Israel dan Hamas.

"Ledakan ini adalah kejahatan baru Israel yang bertujuan untuk membawa Lebanon ke fase konfrontasi baru setelah serangan harian yang sedang berlangsung di selatan Lebanon, yang menyebabkan banyak korban jiwa dan luka-luka," kata Mikati, dikutip laman Asharq Al-Awsat, Rabu lalu.

Dia menambahkan, serangan Israel ke Beirut tak diragukan lagi bertujuan menarik Lebanon dalam eskalasi konflik antara Israel dan Hamas. “Kami mengimbau negara-negara yang berkepentingan untuk menekan Israel agar menghentikan tindakannya. Kami juga memperingatkan terhadap kelompok politik Israel yang terpaksa mengekspor kegagalannya di Gaza ke perbatasan selatan untuk menetapkan fakta-fakta baru dan aturan-aturan keterlibatan,” ucapnya.

Mikati mengatakan, Lebanon tetap berkomitmen terhadap legitimasi internasional yang relevan, terutama Resolusi PBB 1701. Namun dia menganggap Israel telah melanggar aturan tersebut karena mereka masih tidak puas dengan tingkat kematian dan kehancuran yang terjadi. “Jelas bagi semua orang bahwa keputusan perang ada di tangan Israel, dan sangat penting untuk menahan dan menghentikan agresinya,” ujarnya.

Mikati mengungkapkan, dia telah memerintahkan Menteri Luar Negeri Lebanon Abdullah Bou Habib untuk menyampaikan keluhan atas serangan Israel ke Beirut ke Dewan Keamanan PBB. Menurutnya, serangan itu merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan Lebanon.

Wakil pemimpin Hamas, Saleh al-Arouri, terbunuh dalam serangan drone Israel ke kantor Hamas di Mecherfeh di Beirut selatan, Lebanon, Selasa (2/1/2024) malam lalu. Setidaknya enam orang tewas dalam serangan itu. Hamas telah mengonfirmasi kematian Arouri.

Dua komandan Brigade Al-Qassam, yakni sayap militer Hamas, turut terbunuh bersama Arouri dalam serangan Israel. Arouri adalah tokoh yang berperan membangun kembali hubungan Hamas dengan Hizbullah di Lebanon.

Kedua kelompok tersebut sempat berseberangan karena mendukung pihak yang berbeda dalam konflik sipil di Suriah. Hizbullah, yang didirikan oleh Garda Revolusi Iran pada tahun 1982, pernah berperang selama sebulan melawan Israel pada 2006. Arouri menjadi pemimpin Hamas paling senior yang dibunuh Israel sejak pecahnya perang di Gaza pada 7 Oktober 2023. Menyusul kematian Arouri, Hamas dilaporkan telah membekukan pembicaraan tentang gencatan senjata di Israel. 

sumber : reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement