Kamis 04 Jan 2024 16:45 WIB

Mossad dan Hizbullah Saling Ancam, AS Bergegas Tenangkan Keadaan

Biden memerintahkan utusan khusus segera ke Timur Tengah.

Seorang wanita memegang poster mendiang Jenderal Garda Revolusi Qassem Soleimani, yang terbunuh dalam serangan pesawat tak berawak AS pada 2020 di Irak.
Foto: AP Photo/Vahid Salemi
Seorang wanita memegang poster mendiang Jenderal Garda Revolusi Qassem Soleimani, yang terbunuh dalam serangan pesawat tak berawak AS pada 2020 di Irak.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Pimpinan dinas rahasia Israel, Mossad, dan pemimpin milisi Hizbullah di Lebanon saling mengeluarkan ancaman setelah terjadi rangkaian pembunuhan yang menimpa pemimpin Hamas dan pejabat militer Iran. Keadaan ini mendorong Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden memerintahkan utusan khusus segera ke Timur Tengah untuk menenangkan keadaan.

Kepala dinas intelijen luar negeri Israel (Mossad), David Barnea, menyatakan akan memburu dan membunuh semua pemimpin Hamas yang terlibat dalam serangan 7 Oktober 2023 ke Israel. "Memang akan memakan waktu, sama seperti pembantaian Munich pada 1972, tapi akan memburu mereka di mana pun mereka berada," kata Barnea seperti dikutip The Guardian pada Kamis (4/1/2024).

Baca Juga

"Setiap ibu Arab harus tahu bahwa jika putranya turut serta, baik langsung maupun tidak langsung, dalam pembantaian 7 Oktober, maka mereka harus siap menanggung akibatnya," kata Barnea saat acara pemakaman mantan direktur Mossad Zvi Zamir. Zamir adalah tokoh intelijen Israel yang memimpin balas dendam berdarah terhadap Palestina yang membunuh sejumlah atlet Olimpiade Israel di Muenchen, Jerman, pada 1972, ketika Olimpiade digelar di sana.

Israel memang belum mengakui resmi telah membunuh wakil biro politik Hamas Saleh al-Arouri, yang tewas karena serangan drone di Beirut, Lebanon. Tapi, dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah pejabat Israel termasuk PM Benjamin Netanyahu dan kepala dinas rahasia dalam negeri (Shin Bet) Ronen Bar, sudah berikrar akan melancarkan aksi balas dendam seperti terjadi setelah pembantaian Muenchen pada 1972.

Sementara itu pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah juga memperingatkan Israel bahwa pasukannya siap berperang habis-habisan jika Israel berani membuka front di Lebanon. Nasrallah geram Israel membunuh Salah al-Arouri di Beirut selatan yang merupakan basis Hizbullah.

"Jika musuh ingin memaklumatkan perang di Lebanon, maka kami akan berperang habis-habisan, tanpa aturan, tanpa batas, dan tanpa halangan," kata Nasrallah dalam pidato yang tadinya dia persiapkan untuk memperingati empat tahun tewasnya Jenderal Qassem Soleimani yang memimpin Kors Pengawal Revolusi Islam Iran.

"Kami tak takut perang. Untuk saat ini, kami berjuang di garis depan dengan perhitungan yang cermat," kata Nasrallah seperti dilaporkan Times of Israel. Arouri dibunuh di Dahiyeh, Beiru, Selasa malam.

Nasrallah menyebut, pembunuhan Arouri menunjukkan Israel untuk pertama kalinya membidik pinggiran selatan Beirut sejak 2006 ketika pecah Perang Lebanon-Israel Kedua tahun itu yang membuat pinggiran selatan Beirut dibom. Menghadapi situasi ini, Presiden AS segera memerintahkan utusan khusus Amos Hochstein segera pergi ke Timur Tengah guna menurunkan ketegangan antara Israel dan Hizbullah. Ia dijadwalkan tiba di Israel (4/1/2024). 

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement