Ahad 07 Jan 2024 15:00 WIB

Israel Sengaja Ciptakan Kelaparan Di Gaza

Sembilan dari sepuluh keluarga tidak makan apa pun dalam satu hari.

Rep: Lintar Satria/ Red: Lida Puspaningtyas
Warga Palestina mengantri untuk mendapatkan makanan gratis di Rafah, Jalur Gaza, Jumat (22/12/2023). Badan bantuan internasional mengatakan Gaza menderita kekurangan makanan, obat-obatan, dan pasokan pokok lainnya akibat perang dua setengah bulan.
Foto: AP Photo/Fatima Shbair
Warga Palestina mengantri untuk mendapatkan makanan gratis di Rafah, Jalur Gaza, Jumat (22/12/2023). Badan bantuan internasional mengatakan Gaza menderita kekurangan makanan, obat-obatan, dan pasokan pokok lainnya akibat perang dua setengah bulan.

REPUBLIKA.CO.ID, Salah satu pengungsi Gaza di Yordania, Reham Shaheen, mengatakan bulan lalu putrinya yang berusia empat tahun menangis karena kelaparan. Akhirnya ia tertidur saat menunggu Shaheen selesai memasak satu-satunya makanan hari itu.

Shaheen terjebak di Yordania sejak Israel menyerang Gaza bulan lalu. Ia terpisah dari suami dan tiga anaknya yang masih berada di Gaza.

Baca Juga

"Saya menghabiskan dua hari tanpa bisa makan apa-apa, saya memikirkan putri saya, ia tidak dapat menemukan makanan," katanya pada Time, Sabtu (6/1/2024).

Shaheen mengatakan keluarganya menerima tepung dari PBB tapi tidak cukup untuk memberi makan 24 orang yang berbagi satu tenda di Rafah, selatan Gaza. Mereka kesulitan menemukan makanan kaleng atau barang-barang di pasar, di mana harga sepuluh kali lipat lebih mahal dan mereka harus mengantri panjang untuk mendapatkan sedikit makanan.

Dokter bedah Oxford University Hospital dan kepala medis unit gawat darurat di Gaza, Professor Nick Maynar mengatakan anak-anak dan orang dewasa datang ke rumah sakit dengan malnutrisi parah dan satu tanda infeksi, berat badan mereka turun drastis.

"Realitanya di lapangan jauh-jauh lebih buruk," kata Maynar pada Time.

Lembaga internasional sudah berulang kali menyampaikan peringatan Gaza mengalami kelaparan. PBB mengatakan satu dari empat orang kelaparan dan sembilan dari sepuluh keluarga tidak makan apa pun dalam satu hari.

Dalam laporan bulan Desember lalu dari Klasifikasi Tahapan Ketahanan Pangan Terpadu memprediksi pada bulan Februari kelaparan 2 juta lebih warga di Gaza akan mencapai tingkat akut. Setidaknya satu dari empat rumah tangga akan mengalami kelaparan.

Pada 9 Oktober lalu Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant memerintahkan "pengepungan total di Jalur Gaza," dan mengatakan "tidak akan ada listrik, tidak ada makanan, tidak ada bahan bakar, semuanya ditutup." Pada 16 Oktober Menteri Energi Israel Katz mengatakan ia menolak pembukaan blokade.

Keesokan harinya Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir mengatakan tidak ada bantuan yang boleh masuk ke Gaza selama Hamas masih menyandera warga Israel. Baru pada 21 Oktober  Israel mulai mengizinkan bantuan masuk untuk pertama kalinya sejak perang dimulai.

Namun beberapa kelompok hak asasi manusia dan ahli hukum merujuk pernyataan-pernyataan dan tindakan-tindakan tersebut sebagai bukti Israel menggunakan kelaparan digunakan sebagai senjata perang di Gaza.

Hukum internasional yang mengatur konflik bersenjata menyatakan "dengan sengaja menggunakan kelaparan terhadap warga sipil sebagai metode perang dengan merampas benda-benda yang sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup mereka, termasuk dengan sengaja menghalangi suplai bantuan" merupakan sebuah pelanggaran.

Rekan di Global Rights Compliance dan ahli hukum yang yang mempelajari kelaparan dalam perang di Suriah, Sudan Selatan, Yaman, dan Ukraina Catriona Murdoch mengatakan Israel dengan "sangat mencolok mempublikasikan niat mereka mereka dengan sangat jelas."  

Dalam konferensi pers virtual, Jumat (5/1/2024)  kepala departemen sipil COGAT, badan Israel yang memfasilitasi bantuan di Gaza, Kolonel Elad Goren mengatakan "narasi tentang blokade itu sepenuhnya salah."

Goren mengatakan Israel memasok 28 juta liter (7,4 juta galon) air setiap hari ke Gaza dan mengizinkan 126.000 ton bantuan sejak perang dimulai dan meningkatkan jumlah truk yang mengangkut makanan dari sekitar 70 truk per hari sebelum perang menjadi 109 truk per hari pada pekan ini.

"Menurut penilaian kami, yang didasarkan pada pembicaraan kami dengan PBB dan lembaga kemanusiaan lainnya, ada cukup banyak makanan di Gaza dan kami terus mendorong lembaga-lembaga kemanusiaan untuk mengumpulkan lebih banyak truk di perbatasan dan mendistribusikannya. Namun, kami mendengar suara-suara yang menyerukan agar bantuan tambahan dibawa masuk ke Gaza," kata Goren.

"Israel belum dan tidak akan menghalangi pemberian bantuan kemanusiaan kepada warga Gaza yang bukan merupakan bagian dari teror. Mereka bukan musuh kita," katanya.

Namun direktur komunikasi lembaga pengungsi Palestina PBB (UNRWA) Juliette Touma mengatakan sejumlah truk termasuk yang membawa barang komersial, ke Gaza turun jumlah sejak perang di mulai dan tidak cukup banyak bantuan yang masuk. Pada pekan terakhir Desember lalu PBB mengatakan bantuan makanan hanya 8 persen jumlahnya dari yang dibutuhkan masyarakat Gaza.

Dalam pernyataan tertulisnya pada Time, juru bicara Kantor Komisioner Hak Asasi Manusia PBB Jeremy Laurence mengatakan "karena pembatasan Israel, tingkat bantuan yang dapat menyelamatkan nyawa untuk masuk Gaza masih sangat minimal dan jauh di bawah jumlah yang dibutuhkan masyarakat untuk bertahan hidup.

Goren mengatakan Israel bersedia meningkatkan bantuan sebanyak yang dapat diterima PBB. Ia menambahkan PBB dan lembaga lain perlu meningkatkan kapasitas yang bisa mereka bawa ke Gaza termasuk menambah jumlah truk, pekerja dan jam kerja yang lebih lama serta pengemasan bantuan yang lebih baik dan mengimplementasikan sistem QR untuk melacak pengiriman.

UNRWA menolak pernyataan Israel yang menuduh lembaga itu bertanggung jawab atas adanya kesenjangan bantuan di Gaza. Pada Desember lalu Sekretaris Jenderal António Guterres mengatakan masalah yang sebenarnya adalah "cara Israel melakukan serangan ini menciptakan hambatan besar."

PBB mengatakan mereka belum dapat mengirimkan makanan ke Gaza utara pekan ini karena "penundaan dan penolakan," serta pertempuran aktif. Dalam pernyataan tertulisnya ke Time, Jumat lalu Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB mengatakan bantuan terus terhambat oleh risiko keamanan dan kendala mobilitas, termasuk beberapa pemeriksaan, antrean panjang di pos pemeriksaan dan jalan yang rusak.

"Di dalam Gaza, operasi bantuan menghadapi pemboman terus-menerus, dengan para pekerja bantuan sendiri terbunuh dan beberapa konvoi ditembaki," kata kantor tersebut.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement