Rabu 24 Jan 2024 16:09 WIB

Sumber: Kesepakatan Gencatan Senjata Baru Perang Gaza Dapat Disepakati Kapan Saja

Qatar dan Washington jadi mediator negosiasi gencatan senjata satu pekan.

Rep: Lintar Satria/ Red: Friska Yolandha
Pemandangan kamp tenda sementara tempat tinggal warga Palestina yang mengungsi akibat serangan darat Israel di Jalur Gaza, di Rafah, pada Selasa, 23 Januari 2024.
Foto: AP Photo/Fatima Shbair
Pemandangan kamp tenda sementara tempat tinggal warga Palestina yang mengungsi akibat serangan darat Israel di Jalur Gaza, di Rafah, pada Selasa, 23 Januari 2024.

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Qatar, Mesir dan Amerika Serikat (AS) mediator perundingan gencatan senjata  baru  perang Israel di Gaza  yang direncanakan berlangsung 30 hari. Qatar dan Washington mediator negosiasi gencatan senjata satu pekan pada akhir November lalu yang membebaskan 100 sandera Israel dan 240 tahanan Palestina yang dipenjara di Israel.

Seorang pejabat yang mendapat pengarahan mengenai negosiasi terbaru yang digelar sejak 28 Desember lalu mengatakan Qatar sudah mengirim kerangka kerja kesepakatan baru ke Hamas dan Israel. Meminta kedua belah pihak untuk menunjukkan apa yang siap mereka setujui.

Baca Juga

Pejabat yang tidak disebutkan namanya itu mengatakan kedua belah pihak sudah merespons kerangka kerja itu pada awal bulan ini. Hamas ingin gencatan senjata terbaru digelar selama beberapa bulan. Namun Israel ingin semua sandera dibebaskan dalam beberapa pekan.

Pada Selasa (23/1/2024) pejabat tersebut mengatakan dalam beberapa pekan terakhir mediator AS dan Qatar meminta kedua belah pihak untuk menyepakati gencatan senjata selama 30 hari yang termasuk pembebasan semua sandera, mengizinkan lebih banyak bantuan masuk ke Gaza dan pembebasan semua orang Palestina yang ditahan di penjara Israel.  

Sumber lainnya mengatakan meski terdapat kesulitan untuk menjembatani perbedaan kedua belah pihak. Perundingan ini berlangsung ekstensif dan kesepakatan dapat disepakati setiap saat.

Washington juga meningkatkan tekanan diplomatik untuk mengakhiri kekerasan di Gaza. Pada awal Januari ini Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken tur keliling negara-negara Arab dan ke Israel untuk mencari cara mengakhiri pertumpahan darah di pemukiman Palestina itu.

Namun, seorang pejabat Palestina dan pemerintah AS yang mendapat pengarahan mengenai negosiasi ini mengatakan Hamas meminta jaminan Israel tidak kembali memulai konflik. Hamas ingin AS, Qatar, dan Mesir menjamin implementasi kesepakatan tersebut.

Hamas khawatir pemerintahan ultra-kanan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akan kembali menggelar serangan setelah Hamas membebaskan para sandera sipil meski Hamas masih menyandera tentara Israel.

Sumber pemerintah AS mengatakan selama perundingan terbaru ini Hamas ingin semua tahanan Palestina dipenjara Israel dibebaskan termasuk mereka yang berpartisipasi dalam serangan mendadak 7 Oktober lalu. Pemerintah yang menerima pengarahan mengenai negosiasi mengatakan Hamas sudah memperhalus tuntutannya yang kemungkinan besar akan ditolak Israel.

Seorang pejabat Palestina mengatakan Hamas yakin sebelum terdapat pembicaraan serius mengenai gencatan senjata jangka panjang, Israel ingin melanjutkan operasi di Khan Younis. Kota utama di selatan Gaza yang dilanda pertempuran paling paling ekstensif selama beberapa pekan terakhir.

Status perundingan yang sedang berlangsung belum dapat dikonfirmasi langsung. Apakah pasukan dan kendaraan tempur Israel tetap berada di Gaza selama gencatan senjata 30 hari.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement