Rabu 24 Jan 2024 23:20 WIB

China: Solusi Ketegangan di Laut Merah Hanya Akhiri Konflik Gaza

China mendukung dihentikannya perang Gaza.

Rep: Lintar Satria/ Red: Nashih Nashrullah
Dalam gambar yang disediakan oleh Angkatan Laut AS, kapal pendarat amfibi USS Carter Hall dan kapal serbu amfibi USS Bataan transit di selat Bab al-Mandeb pada 9 Agustus 2023. Komandan tertinggi angkatan laut AS di Timur Tengah mengatakan Yaman Pemberontak Houthi tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengakhiri serangan “sembrono” mereka terhadap kapal komersial di Laut Merah.
Foto: Mass Communications Spc. 2nd Class Moises San
Dalam gambar yang disediakan oleh Angkatan Laut AS, kapal pendarat amfibi USS Carter Hall dan kapal serbu amfibi USS Bataan transit di selat Bab al-Mandeb pada 9 Agustus 2023. Komandan tertinggi angkatan laut AS di Timur Tengah mengatakan Yaman Pemberontak Houthi tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengakhiri serangan “sembrono” mereka terhadap kapal komersial di Laut Merah.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING — Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin menyatakan, solusi untuk menghentikan ketegangan di Laut Merah bisa dicapai hanya dengan mengakhiri konflik di Gaza. 

"Perlu ditegaskan bahwa ketegangan di Laut Merah merupakan dampak dari konflik Gaza. Prioritas saat ini adalah mengakhiri pertempuran di Gaza sesegera mungkin demi menghindari eskalasi lebih lanjut dan mencegah situasi menjadi tidak terkendali," kata Wang Wenbin saat menyampaikan keterangan kepada media di Beijing, China pada Rabu (24/1/2024).

Baca Juga

Kelompok Houthi di Yaman menargetkan serangan ke kapal komersial di Laut Merah yang diduga memiliki hubungan dengan Israel. Kelompok Houthi yang didukung Iran mengatakan serangan mereka ditujukan untuk menekan Tel Aviv agar menghentikan serangan mematikan di Jalur Gaza yang telah menewaskan lebih dari 24 ribu warga Palestina sejak 7 Oktober 2023. 

"Kami percaya bahwa Dewan Keamanan PBB tidak pernah mengizinkan penggunaan kekuatan oleh negara mana pun di Yaman. Kedaulatan serta integritas wilayah Yaman dan negara-negara pesisir Laut Merah lainnya harus dihormati dengan sungguh-sungguh," ungkap Wang Wenbin.

Hal tersebut disampaikan terkait serangan udara oleh Amerika Serikat, Inggris dan sekutunya terhadap kota-kota Yaman yang dikendalikan oleh kelompok Houthi termasuk ibu kota Yaman, Sana'a, serta wilayah gubernuran Al Hudaydah, Sa'ada, dan Dhamar. 

Serangan dilakukan sebagai balasan atas serangan kelompok Houthi terhadap kapal-kapal sipil di Laut Merah yang memicu kekhawatiran terjadinya krisis inflasi baru dan gangguan terhadap rantai pasokan.

"China siap bekerja sama dengan semua pihak untuk membantu meredakan situasi dan menjaga keamanan dan stabilitas kawasan Laut Merah," tambah Wang Wenbin meski tidak menjelaskan apa tindakan China selanjutnya.

Dia hanya menyebut China sangat prihatin atas eskalasi ketegangan di Laut Merah baru-baru ini. "Laut Merah merupakan jalur perdagangan internasional yang penting untuk logistik dan energi. China telah menjalin komunikasi yang erat dengan berbagai pihak dan berupaya secara aktif untuk meredakan ketegangan di Laut Merah," katanya.

China, kata Wang, menyerukan penghentian tindakan yang menimbulkan gangguan terhadap kapal-kapal sipil, dan mendesak pihak-pihak terkait untuk tidak menambahkan "bahan bakar" ke dalam api di Laut Merah dan bersama-sama menjaga keselamatan rute pelayaran Laut Merah sesuai dengan hukum.

Sebelumnya diberitakan banyak kapal barang yang melewati Laut Merah menggunakan lambang China maupun menuliskan "seluruh kru berasal dari China" untuk menunjukkan bahwa mereka memiliki hubungan dengan China demi menghindari serangan dari kelompok Houthi.

Namun Pemerintah China telah membantah kelompok Houthi menjanjikan keamanan bagi kapal berbendera China di Laut Merah. 

Amerika serang Houthi ...

sumber : Antara

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement