Jumat 09 Feb 2024 14:45 WIB

Save the Children: Warga Gaza Berpindah Tempat Seperti Bidak Catur

Tidak ada lagi tempat aman bagi penduduk Gaza.

Rep: Lintar Satria/ Red: Ani Nursalikah
Anak-anak pengungsi Palestina bermain sepak bola di kamp pengungsi Rafah, Jalur Gaza selatan, 8 Februari 2024.
Foto: EPA-EFE/HAITHAM IMAD
Anak-anak pengungsi Palestina bermain sepak bola di kamp pengungsi Rafah, Jalur Gaza selatan, 8 Februari 2024.

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Direktur Save the Children untuk wilayah Palestina Jason Lee mengatakan situasi bagi rakyat Palestina di Rafah sangat sulit. Sementara, Israel terus melancarkan serangan ke salah satu tempat yang tersisa bagi warga Gaza mengungsi mencari perlindungan.

"Situasi di Rafah terus memburuk setiap harinya, kini kami menghadapi pengungsian besar-besaran. Diperkirakan terdapat 1,3 juta orang di Rafah tidak memiliki tempat tinggal sementara, tidak ada tempat bagi mereka untuk tinggal," kata Lee seperti dikutip Aljazirah, Jumat (9/2/2024).

Baca Juga

"Warga sipil tinggal di tenda-tenda, di tempat penampungan sementara di sepanjang jalang, di tempat parkir mobil, di samping masjid, di sebelah sekolah, di sebelah rumah sakit, tempat mana pun yang bisa mereka temukan," tambahnya.

Lee mengecam pengungsian yang terus-menerus yang dihadapi warga Palestina di Gaza ketika mereka melarikan diri dari pengeboman Israel. "Ke mana lagi penduduk harus pergi? Mereka telah dipindahkan dari utara Gaza, dari daerah pusat Gaza - dipindah-pindahkan seperti bidak-bidak di papan catur untuk mencapai tujuan militer. Tidak ada tempat yang tersisa bagi mereka untuk bergerak," katanya.

Lee menambahkan jika Israel meningkatkan serangan militer ke Rafah, warga sipil akan terpaksa mengungsi ke daerah-daerah yang sudah dihancurkan Israel. Di mana terdapat risiko signifikan, terutama bagi anak-anak, seperti adanya ranjau yang belum meledak.

Jurnalis Palestina Mohammed Akram Al Helo melaporkan seorang dokter di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis ditembak saat berada di ruang operasi. Dokter Nusseib mengalami luka tembak di dadanya dan dalam kondisi kritis.

Al Helo mengatakan penembakan ini dilakukan dengan sengaja. Mengincar seorang dokter yang bekerja di ruang operasi.

"Bahkan kini dokter menjadi target pasukan penjajah saat melakukan tanggung jawab mereka di ruang operasi. Berapa lama lagi keheningan ini akan berlangsung?" kata Al Helo.

Rumah Sakit Nasser sudah dikepung pasukan Israel selama dua pekan. Aljazirah melaporkan staf medis di rumah sakit ditembaki penembak jitu Israel dan serangan drone Israel menewaskan pengungsi yang mencari perlindungan di rumah sakit itu.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement