Selasa 27 Feb 2024 14:59 WIB

Promosikan Kepentingan Ekonomi, Kemlu Fasilitasi Jejaring Startup ke Pasar Eropa

Usaha rintisan telah muncul sebagai agen perubahan.

Penasihat Dipomasi Ekonomi Kementerian Luar Negeri Indoenesia Dindin Wahyudin dalam acara Startup Talks yang digelar di Jakarta, Selasa (27/2/2024).
Foto: ANTARA/Kuntum Riswan.
Penasihat Dipomasi Ekonomi Kementerian Luar Negeri Indoenesia Dindin Wahyudin dalam acara Startup Talks yang digelar di Jakarta, Selasa (27/2/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Luar Negeri (Kemlu) memfasilitasi kerja sama dan jejaring perusahaan rintisan atau startup Indonesia ke pasar Eropa melalui acara Startup Talks yang bertujuan untuk meningkatkan ekspor produk lokal.

“Salah satu prioritas kami adalah diplomasi ekonomi, kami bertujuan untuk mempromosikan kepentingan ekonomi dan mendorong kerja sama antar negara. Startup Talks merupakan bukti komitmen kami dalam menyediakan platform untuk menjajaki peluang kolaboratif dan memperkuat hubungan antara Indonesia dan Eropa,” kata Penasihat Dipomasi Ekonomi Kementerian Luar Negeri Indonesia Dindin Wahyudin dalam acara Startup Talks yang digelar di Jakarta, Selasa, (27/2/2024).

Baca Juga

Dindin menjelaskan, usaha rintisan telah muncul sebagai agen perubahan yang mentransformasi industri dalam pertumbuhan ekonomi digital, mendorong batasan-batasan konvensional, dan membentuk lanskap ekonomi. “Ekosistem startup Indonesia telah mengalami perkembangan signifikan sejak pertama kali muncul pada tahun 2010 dan lanskapnya kini telah menjadi pusat inovasi yang berkembang pesat,” ucapnya.

Startup, lanjutnya, juga berada pada garda terdepan kemajuan teknologi dan kerap bertanggung jawab dalam menyediakan layanan, jasa dan produk inovatif yang menjadi kebutuhan masyarakat. “Startup berada di garis depan kemajuan teknologi dan pendorong utama inovasi dalam menghasilkan produk dan layanan inovatif yang menjawab kebutuhan masyarakat,” ucapnya.

Dalam konteks ASEAN, potensi nilai ekonomi digital diperkirakan akan mencapai 330 miliar dolar AS (Rp 5.167 triliun) pada 2025 dan satu triliun dolar AS (Rp 15.658 triliun ) pada tahun 2030. Sedangkan di Indonesia, ekonomi digital diprediksi akan berkontribusi sebanyak 150 miliar dolar AS (Rp 23,5 triliun) pada 2025.

Lebih lanjut mantan Duta Besar Indonesia untuk Senegal itu berharap agar fasilitas yang diberikan oleh Kementerian Luar Negeri dapat menggali lebih banyak potensi ekonomi digital ke pasar Eropa dan menguntungkan bisnis kedua belah pihak. Kerja sama itu juga diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi pemerintah melalui pertukaran wawasan mengenai regulasi dalam meningkatkan ekonomi digital dan memperkuat hubungan dengan para mitra terutama negara-negara Eropa.

“Kalau produk Indonesia sudah go internasional ya tadi meningkatkan ekspor Indonesia juga semakin menambah citra positif Indonesia karena produk Indonesia sudah dipakai di internasional. Diaspora dilibatkan, bank sudah memanfaatkan kehadiran diaspora yang menjadi bagian dari diplomasi ekonomi,” tutur dia.

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement