Selasa 05 Mar 2024 07:14 WIB

Mengintip Rumah Perpustakaan di Filipina

Perpustakaan yang bernama Reading Club 200 itu memiliki berbagai buku.

Rep: Lintar Satria/ Red: Setyanavidita livicansera
Anak-anak membaca buku di Rumah Baca Zhaffa, Manggarai, Jakarta Selatan, Kamis (22/2/2024). Rumah Baca Zhaffa yang didirikan di tengah pemukiman padat penduduk sejak tahun 2008 itu menyediakan berbagai macam jenis koleksi buku untuk menarik minat membaca sekaligus menjadi tempat belajar bagi anak-anak yang mengalami kendala dalam membaca selama sekolah. Sebanyak 150 anak yang berasal dari wilayah Manggarai, Manggarai Selatan dan Bukit Duri mengikuti pendidikan non formal secara gratis di tempat tersebut yang diharapkan dapat meningkatkan literasi anak sejak dini.
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Anak-anak membaca buku di Rumah Baca Zhaffa, Manggarai, Jakarta Selatan, Kamis (22/2/2024). Rumah Baca Zhaffa yang didirikan di tengah pemukiman padat penduduk sejak tahun 2008 itu menyediakan berbagai macam jenis koleksi buku untuk menarik minat membaca sekaligus menjadi tempat belajar bagi anak-anak yang mengalami kendala dalam membaca selama sekolah. Sebanyak 150 anak yang berasal dari wilayah Manggarai, Manggarai Selatan dan Bukit Duri mengikuti pendidikan non formal secara gratis di tempat tersebut yang diharapkan dapat meningkatkan literasi anak sejak dini.

REPUBLIKA.CO.ID, MANILA -- Di rumah dua lantainya di pinggir distrik keuangan Filipina, Hernando Guanlao menempelkan papan tanda bertuliskan "buku bagus mudah ditemukan." Ia mengubah rumahnya sebagai perpustakaan umum di mana semua orang bisa meminjam buku dengan gratis.

Perpustakaan yang bernama Reading Club 200 itu memiliki berbagai buku. Guanlao berharap perpustakaan ini dapat menginspirasi orang-orang terutama anak muda yang penasaran untuk membaca, terlebih saat minat baca siswa-siswi Filipina masih rendah.

Baca Juga

“Buku-buku yang dapat dilihat di sini adalah buku-buku yang digunakan K-12 (buku-buku sekolah), novel-novel yang dapat dimanfaatkan para pelajar dan peminatnya,” kata Guanlao, 72 tahun, di rumahnya yang dipenuhi ribuan tumpukan buku, Senin (4/3/2024).

“Ada juga buku rohani bagi yang mencari ilmu agama, buku jilid keras dan jilid lunak, autobiografi, dan berbagai genre yang bisa dinikmati, semuanya gratis,” kataya.

Berawal dari 50 buku yang dipajang di trotoar di depan rumahnya lebih dari dua dekade. Berkat pasokan buku yang stabil dari para donatur yang beberapa di antaranya memilih untuk tidak disebutkan namanya, koleksi Guanlao  berkembang pesat selama bertahun-tahun.

"Mereka meninggalkan kotak-kotak buku di luar rumah saya," kata Guanlao, yang juga mulai mengirimkan bahan bacaan ke sekolah-sekolah umum di daerah-daerah terpencil. Menurut penelitian Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), Program Penilaian Siswa Internasional siswa-siswi Filipina menghadapi kemunduran dalam belajar dengan nilai matematika, sains, dan membaca di antara yang terendah di dunia.

"Misi saya adalah memberikan buku-buku bekas dan sumbangan kepada orang lain tanpa biaya dan mempromosikan pendidikan melalui literatur," kata Guanlao.

sumber : reuters

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement