Selasa 12 Mar 2024 23:59 WIB

Badan Intelijen: Amerika Serikat Hadapi Tatanan Dunia yang Semakin Rapuh

Amerika Serikat hadapi sejumlah persoalan dengan China hingga Rusia

Rep: Lintar Satria / Red: Nashih Nashrullah
Gedung Capitol Amerika Serikat (AS) (ilustrasi).   Amerika Serikat hadapi sejumlah persoalan dengan China hingga Rusia
Foto: EPA-EFE/MICHAEL REYNOLDS
Gedung Capitol Amerika Serikat (AS) (ilustrasi). Amerika Serikat hadapi sejumlah persoalan dengan China hingga Rusia

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON - Lembaga-lembaga intelijen Amerika Serikat (AS) mengatakan Amerika Serikat menghadapi "tatanan dunia yang semakin" rapuh akibat persaingan kekuatan besar, tantangan transnasional dan konflik regional. Hal ini disampaikan dalam laporan tahunan 2024 Annual Threat Assessment.

"China yang ambisius tetapi cemas, Rusia yang konfrontatif, beberapa kekuatan regional, seperti Iran, dan aktor non-negara yang lebih cakap menantang aturan-aturan yang sudah ada sejak lama dalam sistem internasional serta keunggulan Amerika Serikat di dalamnya," kata laporan tersebut yang dirilis Senin (11/3/2024).

Baca Juga

Laporan ini fokus pada ancaman dari China dan Rusia yang merupakan saingan utama Amerika Serikat setelah dua tahun invasi Moskow ke Ukraina. Dalam laporan itu badan-badan intelijen Amerika Serikat juga mencatat risiko meluasnya konflik perang Israel di Gaza.

Laporan itu mengatakan China memberikan bantuan ekonomi dan jaminan keamanan ke Rusia selama perang Ukraina dengan mendukung industri dasar Rusia. Intelijen Amerika Serikat juga memperingatkan China dapat menggunakan teknologi untuk mempengaruhi pemilihan umum Amerika Serikat tahun ini.

"(Cina) mungkin mencoba mempengaruhi pemilihan Amerika Serikat pada 2024 dalam tingkat tertentu karena hasrat untuk mengesampingkan kritik ke China dan memperkuat perpecahan masyarakat Amerika Serikat," kata laporan itu.

Dalam kesaksiannya pada Komite Intelijen Senat Amerika Serikat, Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat Avril Haines mendesak anggota parlemen untuk menyetujui lebih banyak bantuan militer ke Ukraina.

Dia mengatakan "sulit membayangkan bagaimana Ukraina" dapat mempertahankan wilayahnya yang direbut dari Rusia tanpa lebih banyak bantuan dari Washington.

Dalam laporan ancaman, lembaga-lembaga intelijen AS mencatat perdagangan antara China dan Rusia meningkat sejak perang Ukraina dimulai. Ekspor barang-barang Cina yang berpotensi dapat digunakan untuk kebutuhan militer naik tiga kali lipat sejak 2022.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement