Selasa 19 Mar 2024 17:46 WIB

Pengalaman Berkesan Meliput Kongres Rakyat Nasional Cina

Menghadiri Kongres Rakyat Nasional merupakan bagian dari agenda program CIPC 2024.

Jurnalis Republika, Kamran Dikarma, menghadiri Kongres Rakyat Nasional sebagai bagian dari agenda program China International Press Center (CIPC) 2024.
Foto: Republika/Kamran Dikarma
Jurnalis Republika, Kamran Dikarma, menghadiri Kongres Rakyat Nasional sebagai bagian dari agenda program China International Press Center (CIPC) 2024.

REPUBLIKA.CO.ID, Kamran Dikarma, Jurnalis Republika

Laporan langsung dari Beijing, Cina

Berada di satu ruangan yang sama dengan Presiden Cina Xi Jinping, menjadi salah satu pengalaman paling berkesan sepanjang sembilan tahun karier saya sebagai jurnalis. Momen tersebut saya alami ketika berkesempatan menghadiri dan meliput Kongres Rakyat Nasional Cina ke-14 di Balai Agung Rakyat, Beijing, pada 5 Maret 2024 lalu.

Kunjungan ke Balai Agung Rakyat untuk menghadiri Kongres Rakyat Nasional merupakan bagian dari agenda program China International Press Center (CIPC) 2024. Sekitar 100 jurnalis dari lebih 90 negara berpartisipasi dalam program tersebut. Republika menjadi satu-satunya media asal Indonesia yang diundang untuk mengikuti program CIPC gelombang pertama tahun ini.

Tanggal 5 Maret 2024, sejak pukul 07:00 pagi, para jurnalis peserta program CIPC telah berkumpul di titik yang sudah ditentukan di area Jianguomenwai Diplomatic Residence Compound (DRC). Sama seperti saya, mereka semua menantikan momen perdana menyaksikan langsung Kongres Rakyat Nasional yang merupakan salah satu agenda politik tahunan terpenting di Cina. Sebagai informasi, DRC merupakan tempat para jurnalis tinggal selama program CIPC berlangsung.

Perjalanan dari DRC ke Balai Agung Rakyat hanya memakan waktu sekitar 30 menit. Kami berangkat dengan menggunakan tiga bus yang telah disediakan tim panitia CIPC. Pagi itu, suhu kota Beijing cukup dingin, yakni 4 derajat Celcius.

Ketika tiba, bus kami parkir di area Lapangan Tiananmen. Balai Agung Rakyat terletak di sebelah barat lapangan tersebut. Di sekitar Lapangan Tiananmen, terdapat bangunan-bangunan penting lainnya, yakni Museum Nasional Cina, Monumen Pahlawan Rakyat, dan Mausoleum Mao Zedong, tokoh pendiri Republik Rakyat Cina. Bisa berada di Lapangan Tiananmen yang ikonik dan bersejarah sesungguhnya juga merupakan pengalaman berkesan bagi saya.

Sebelum masuk ke Balai Agung Rakyat, saya dan para jurnalis peserta CIPC harus melewati tiga lapis pemeriksaan tanda pengenal oleh petugas pengamanan. Tanda pengenal sebagai jurnalis sudah kami peroleh dua hari sebelum Kongres Rakyat Nasional Cina digelar.

Setelah melewati pemeriksaan pos kedua, saya berada tepat di pelataran Balai Agung Rakyat. Sama seperti namanya, Balai Agung Rakyat memang memiliki citra agung. Bangunan yang berdiri di atas lahan seluas 171 ribu meter persegi itu memiliki tinggi 46,5 meter. Muka bangunannya terdiri dari sepuluh pilar yang menjulang. Untuk sampai ke pintu masuk Balai Agung Rakyat, kita harus terlebih dulu menaiki sekitar 30 anak tangga.

Setelah berada di aula Balai Agung Rakyat, saya melihat jurnalis dari berbagai negara telah berkumpul untuk melakukan peliputan. Tampak juga beberapa kelompok kecil jurnalis lokal Cina yang tengah melakukan doorstop terhadap pejabat politik maupun petinggi militer negara tersebut. Suasana cukup riuh. 

Setelah menikmati segelas teh hangat yang disediakan di aula, saya dan para jurnalis peserta CIPC diberi tahu untuk naik ke lantai tiga. Kongres Rakyat Nasional Cina hendak dimulai. Di lantai dasar tersedia lift, tapi saya memilih menaiki tangga. Tujuannya untuk melihat lebih detail setiap sudut Balai Agung Rakyat. Karena mungkin saja ini bakal menjadi pengalaman perdana dan terakhir hadir di tempat tersebut. 

Sebagai gedung negara, interior Balai Agung Rakyat tentu memiliki kesan mewah. Terdapat beberapa lukisan berukuran besar dan lebar pada setiap lantainya. Jika dilihat, kebanyakan lukisan menggambarkan alam atau pemandangan. 

Ketika sampai di lantai tiga, sebagian kursi tribune telah terisi oleh jurnalis-jurnalis lain yang telah tiba lebih dulu. Tapi saya tetap berusaha mencari kursi sedepan mungkin agar mendapat pemandangan lebih jelas ke arah panggung. 

Setelah menunggu hampir satu jam, terdengar semacam alarm, tanda bahwa Kongres Rakyat Nasional akan dimulai. Tepat ketika para anggota marching band dari militer Cina memainkan sebuah aransemen (saya kurang tahu apakah itu aransemen lagu nasional Cina atau bukan), para hadirin, termasuk para jurnalis, bangkit dari kursi. Pada momen itu Presiden Cina Xi Jinping keluar dari sisi kiri panggung, diikuti para pejabat tinggi Cina lainnya.

Semua jurnalis, termasuk fotografer dan juru kamera, segera mengabadikan momen kehadiran Xi Jinping. Saya turut merekam menggunakan kamera gawai sambil tersenyum-senyum sendiri. Sebab saya tak pernah membayangkan bisa melihat langsung dan berada di ruangan yang sama dengan Xi Jinping, salah satu tokoh dunia berpengaruh saat ini.

Pada Oktober 2017, Partai Komunis Cina sepakat untuk menambahkan nama dan pemikiran Xi Jinping ke dalam konstitusi negara. Xi menjadi pemimpin Cina kedua setelah Mao Zedong yang nama dan pemikirannya dimasukkan ke konstitusi ketika masih menjabat.

Dalam Kongres Rakyat Nasional ke-14 pada 5 Maret 2024 lalu, Xi hanya hadir dan tidak berpidato. Laporan tentang kinerja pemerintah Cina tahun 2023 dan rencana pemerintah tahun 2024, disampaikan oleh Perdana Menteri Li Qiang. Kendati demikian, pengalaman bisa menghadiri pertemuan tersebut tetap berkesan bagi saya.

Dulu saya pernah mendengar seorang berkata,"Menjadi jurnalis tidak akan membuatmu kaya, tapi akan memberikanmu pengalaman-pengalaman berharga dan tak terduga". Apa benar pernyataan itu? Mungkin saja. 

Tapi tentu akan lebih menyenangkan jika pernyataannya berbunyi demikian: Menjadi jurnalis tidak hanya akan memberikanmu pengalaman-pengalaman berharga dan tak terduga, tapi juga bisa membuatmu sejahtera.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement