Selasa 19 Mar 2024 22:15 WIB

AS Sebut Israel Harus Lindungi Warga Sipil di Gaza

Israel diminta memastikan bantuan kemanusiaan sampai ke tangan yang membutuhkan.

Anggota keluarga Al-Rabaya berbuka puasa selama bulan suci Ramadhan di luar rumah mereka yang hancur akibat serangan udara Israel di Rafah, Jalur Gaza, Senin, 18 Maret 2024.
Foto: AP Photo/Fatima Shbair
Anggota keluarga Al-Rabaya berbuka puasa selama bulan suci Ramadhan di luar rumah mereka yang hancur akibat serangan udara Israel di Rafah, Jalur Gaza, Senin, 18 Maret 2024.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken mengatakan Israel harus melindungi penduduk sipil di Jalur Gaza. Israel juga harus memastikan bantuan kemanusiaan bagi mereka yang membutuhkan tanpa merugikan haknya untuk membela diri.

Pada Selasa (19/3/2024) Blinken melakukan kunjungan ke Ibu Kota Filipina, Manila dan mengadakan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Enrique Manalo.

Baca Juga

“Seperti yang kami katakan sejak hari pertama, Israel juga sepenuhnya berkewajiban membela diri dan mencegah peristiwa 7 Oktober terulang kembali, memprioritaskan perlindungan bagi warga sipil, mereka yang terjebak dalam perang dan untuk memberikan bantuan kemanusiaan bagi mereka yang sangat membutuhkan,” kata Blinken saat konferensi pers gabungan dengan Manalo.

Blinken juga mengatakan tanggung jawab utama konflik ada di tangan kelompok perlawanan Palestina, Hamas.

Pada Oktober 2023 Hamas meluncurkan serangan roket besar-besaran terhadap Israel dari Jalur Gaza dan melanggar perbatasan sehingga menewaskan 1.200 orang dan menculik sekitar 240 lainnya. Israel lantas melakukan serangan balasan, memerintahkan pengepungan total terhadap Gaza dan mulai melakukan serangan darat dengan tujuan melenyapkan petempur Hamas dan menyelamatkan para sandera.

Menurut pemerintah setempat, hingga kini lebih dari 31.700 orang di Jalur Gaza telah terbunuh. Pada 24 November Qatar menjadi mediator antara Israel dan Hamas dalam kesepakatan mengenai gencatan senjata sementara, pertukaran tahanan dan sandera dan juga pengiriman bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.

Gencatan senjata telah diperpanjang beberapa kali dan berakhir pada 1 Desember. Saat ini lebih dari 100 sandera diyakini masih ditahan Hamas di Gaza.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement