Selasa 26 Mar 2024 09:42 WIB

Hamas Sambut Baik Resolusi Gencatan Senjata di Gaza

Hamas menekankan gencatan senjata seharusnya berlangsung secara permanen.

Warga Palestina memeriksa kerusakan bangunan tempat tinggal pasca serangan udara Israel di Rafah, Jalur Gaza selatan, Ahad, (24/3/2024).
Foto: AP Photo/Fatima Shbair
Warga Palestina memeriksa kerusakan bangunan tempat tinggal pasca serangan udara Israel di Rafah, Jalur Gaza selatan, Ahad, (24/3/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, DOHA -- Kelompok perlawanan Palestina, Hamas, pada Senin (26/3/2024), menyambut baik adopsi resolusi Dewan Keamanan PBB tentang gencatan senjata di Jalur Gaza selama bulan Ramadhan. “Gerakan Perlawanan Islam Hamas menyambut seruan Dewan Keamanan PBB untuk segera melakukan gencatan senjata,” kata pernyataan resmi Hamas seperti dilaporkan Sputnik, Senin.

Hamas menekankan gencatan senjata seharusnya berlangsung secara permanen dan seluruh pasukan Israel dapat segera menarik diri dari Jalur Gaza. “Kami menekankan perlunya mencapai gencatan senjata permanen yang akan mengarah pada penarikan semua pasukan Zionis (Israel) dari Jalur Gaza dan kembalinya para pengungsi ke rumah yang mereka tinggalkan,” kata Hamas dalam pernyataannya.

Baca Juga

Selain itu, Hamas menegaskan kesiapan untuk segera melakukan pertukaran tahanan dengan Israel. “Dalam konteks teks resolusi, penting untuk menjamin kebebasan bergerak warga Palestina dan akses terhadap semua kebutuhan kemanusiaan bagi seluruh penduduk di seluruh wilayah Jalur Gaza serta pengiriman alat berat untuk membersihkan puing-puing sehingga kami dapat menguburkan para syuhada kami yang berada di bawah reruntuhan selama berbulan-bulan,” tambahnya.

Pada Senin malam, Dewan Keamanan PBB mengadopsi resolusi yang menyerukan gencatan senjata segera selama Ramadhan di Gaza yang mengarah pada gencatan senjata yang berlangsung lama dan berkelanjutan. Mosi tersebut disponsori oleh 10 anggota tidak tetap Dewan Keamanan. Sebanyak 14 negara memberikan suara mendukung, sementara Amerika Serikat abstain.

sumber : Antara, Sputnik
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement