Rabu 03 Apr 2024 08:22 WIB

Upaya Rusia Hapus Taliban dari Daftar Organisasi Teroris 

Bulan lalu Rusia mengalami serangan paling mematikan dalam 20 tahun.

Rep: Lintar Satria/ Red: Setyanavidita livicansera
Pejabat keamanan Taliban berjaga saat upacara menyambut kembalinya dua tahanan terakhir Afghanistan di Teluk Guantanamo di bandara Kabul di Kabul, Afghanistan, (12/2/2024).
Foto: EPA-EFE/SAMIULLAH POPAL
Pejabat keamanan Taliban berjaga saat upacara menyambut kembalinya dua tahanan terakhir Afghanistan di Teluk Guantanamo di bandara Kabul di Kabul, Afghanistan, (12/2/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Rusia mengatakan mereka memiliki isu penting untuk dibahas dengan Taliban yang berkuasa di Afghanistan. Moskow juga mengatakan sedang berupaya menghapus Taliban dari daftar organisasi teroris yang dilarang. "Negara ini berada di sebelah kami, dengan satu atau lain cara kami berkomunikasi dengan mereka," kata juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, Selasa (2/4/2024).

"Kami harus menyelesaikan masalah-masalah yang mendesak, ini juga membutuhkan dialog, sehingga dalam hal ini kami berkomunikasi dengan mereka seperti dengan semua orang lainnya, mereka otoritas de facto di Afghanistan," kata Peskov.

Baca Juga

Ia tidak menjelaskan lebih lanjut "isu-isu mendesak" itu, tapi bulan lalu Rusia mengalami serangan paling mematikan dalam 20 tahun dalam penembakan massal yang menewaskan setidaknya 144 orang. ISIS mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut dan pejabat pemerintah Amerika Serikat (AS) mengatakan intelijen AS mengkonfirmasi serangan dilakukan jaringan ISIS di Afghanistan yang dikenal sebagai ISIS-Khorasan atau ISIS-K.

Rusia mengatakan serangan itu memiliki hubungan dengan Ukraina. Kiev dan Washington pun telah membantah tuduhan tersebut. Sebelumnya dilaporkan tiga orang sumber mengatakan Iran juga memberi informasi ke Rusia kemungkinan "operasi teroris" di wilayah Rusia sebelum pembantaian di gedung konser bulan lalu.

Kini lebih sulit bagi Rusia membantah intelijen dari sekutu diplomatik dibandingkan intelijen dari AS. Informasi ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas badan keamanan Rusia. Moskow dan Teheran yang dikenai sanksi Barat memperdalam hubungan militer dan kerja sama lainnya selama perang Rusia di Ukraina.

Taliban kembali berkuasa di Afghanistan pada 2021 setelah koalisi pasukan asing yang dipimpin AS mundur dari negara. Namun sampai saat ini Taliban masih tercantum dalam daftar organisasi teroris di Rusia. 

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement