Kamis 04 Apr 2024 12:59 WIB

Ketika Algoritma Dimanfaatkan untuk Genosida 

Algoritma digunakan untuk menemukan lebih banyak target.

Rep: Lintar Satria/ Red: Setyanavidita livicansera
Warga Palestina membawa jenazah yang ditemukan dari bawah reruntuhan rumah menyusul serangan udara Israel di kamp pengungsi Rafah, Jalur Gaza selatan, (4/4/2024).
Foto: EPA-EFE/HAITHAM IMAD
Warga Palestina membawa jenazah yang ditemukan dari bawah reruntuhan rumah menyusul serangan udara Israel di kamp pengungsi Rafah, Jalur Gaza selatan, (4/4/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Majalah Israel-Palestina +972 dan media berbahasa Ibrani, Local Call, merilis laporan yang mengungkapkan tentara Israel menggunakan teknologi sistem penargetan kecerdasan buatan (AI) yang dinamakan "Lavender" untuk mengidentifikasi puluhan ribu Gaza yang diduga target potensial.

"Menjadi semakin jelas Israel menggunakan sistem AI yang tak teruji yang tidak melalui evaluasi transparan untuk membantu membuat keputusan soal hidup dan mati warga sipil," kata asisten profesor Kajian Timur Tengah dan kemanusiaan digital di Hamid bin Khalifa University Marc Owen Jones mengenai laporan tersebut seperti dikutip Aljazirah, Kamis (4/4/2024).

Baca Juga

"Fakta operator dapat mengubah algoritma berdasarkan tekanan dari perwira senior untuk menemukan lebih banyak target mengindikasi mereka sebenarnya menyerahkan pertanggungjawaban dan seleksi ke AI dan menggunakan sistem komputer untuk menghindari akuntabilitas moral,” tambahnya.

Jones mengatakan operator mengungkapkan bagaimana AI pada dasarnya mesin pembunuh yang efisien. "Dan secara eksplisit tidak digunakan untuk mengurangi korban warga sipil tapi menemukan lebih banyak target," kata Jones.

photo
Setengah tahun genosida di Gaza - (Republika)

"Ini membantu menjelaskan bagaimana lebih dari 32 ribu orang dibunuh. Mari perjelas: ini merupakan AI untuk membantu genosida, dan lebih lanjut, perlu ada seruan untuk moratorium penggunaan AI dalam perang," tambahnya.

"Tanpa adanya tekanan dari sekutu Israel, kecil kemungkinan penggunaan AI akan berakhir," kata Jones. Sementara itu kantor media Gaza mengungkapkan hingga saat ini sudah 32.975 warga Palestina tewas dalam serangan Israel, termasuk 14.500 anak-anak. Ribuan lainnya masih hilang atau terjebak di bawah reruntuhan.

Setidaknya 484 anggota staf medis tewas dan lebih dari 75.500 warga Palestina menderita luka-luka. Sekitar 17 ribu anak kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya. Lebih dari satu juta orang terkena penyakit menular akibat pengungsian berulang kali.

Selain itu, lebih dari 300 anggota staf medis dan 12 jurnalis ditangkap pasukan Israel. Setidaknya dua juta warga Palestina kini menjadi pengungsi internal di Gaza dan 70 ribu unit rumah hancur total.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement