Selasa 09 Apr 2024 07:06 WIB

AUKUS Pertimbangkan Bekerja Sama dengan Jepang

Pilar pertama pakta ini adalah merancang kapal selam berkekuatan nuklir.

Rep: Lintar Satria/ Red: Setyanavidita livicansera
Tentara Jepang mengambil posisi saat operasi pendaratan amfibi pada latihan militer multinasional Perisai Super Garuda di Situbondo, Jawa Timur, Indonesia, Ahad, (10/9/2023).
Foto: AP Photo/Trisnadi
Tentara Jepang mengambil posisi saat operasi pendaratan amfibi pada latihan militer multinasional Perisai Super Garuda di Situbondo, Jawa Timur, Indonesia, Ahad, (10/9/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Inggris, Amerika Serikat (AS), dan Australia mempertimbangkan bekerja sama dengan Jepang dalam proyek peningkatan kapabilitas melalui pakta keamanan AUKUS. Hal ini disampaikan dalam pernyataan gabungan tiga negara.

Sumber mengatakan kemungkinan Presiden AS Joe Biden dan Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida akan membahas topik ini lebih lanjut dalam pertemuan mereka di Washington pada Rabu (10/4/2024). AUKUS yang dibentuk Inggris, AS dan Australia pada 2021 bagian dari upaya melawan pengaruh Cina yang semakin menguat di kawasan Indo-Pasifik.

Baca Juga

Pilar pertama pakta ini adalah merancang kapal selam berkekuatan nuklir untuk Australia. Dalam pernyataannya tidak mengusulkan Jepang terlibat dalam pakta tersebut. Namun pilar kedua fokus pada peningkatan kapabilitas dan berbagi teknologi diberbagai bidang termasuk komputer kuantum, teknologi bawah laut, hipersonik, kecerdasan artifisial dan teknologi siber.

"Mengakui kekuatan Jepang dan kedekatan kemitraan pertahanan bilateralnya dengan tiga negara kami mempertimbangkan untuk bekerja sama dengan Jepang dalam proyek-proyek peningkatan kapabilitas Pilar II AUKUS," kata pernyataan yang dirilis pemerintah Inggris, Senin (8/4/2024).  

Pernyataan itu mengatakan negara anggota AUKUS sudah melihat dengan jelas maksud mereka untuk melibatkan negara lain di Pilar II dan mempertimbangkah faktor-faktor antara lain: "Inovasi teknologi, pendanaan, penguatan industri, kemampuan melindungi data sensitif dan dampak pada mempromosikan stabilitas dan perdamaian di kawasan Indo-Pasifik."

Cina menyebut AUKUS sebagai pakta berbahaya dan memperingatkan dampak memicu perlombaan senjata di kawasan. Sebelumnya Sekretaris Kabinet Jepang Yoshimasa Hayashi mengatakan saat ini belum ada keputusan mengenai kerja sama dengan AUKUS. 

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement