Ahad 14 Apr 2024 11:15 WIB

Membalas dengan Banyak Cara, Iran Sita Kapal Kargo Israel

Helikopter Garda Revolusi mendarat dan membawa kapal berbendera Portugal, MSC Aries.

Rep: Lintar Satria/ Red: Setyanavidita livicansera
Gambar diam dari video yang dirilis Angkatan Laut AS ini menunjukkan kapal tanker minyak berbendera Panama, Niovi, dikepung oleh kapal Garda Revolusi Iran di Selat Hormuz pada Rabu, (3/5/2023).
Foto: U.S. Navy via AP
Gambar diam dari video yang dirilis Angkatan Laut AS ini menunjukkan kapal tanker minyak berbendera Panama, Niovi, dikepung oleh kapal Garda Revolusi Iran di Selat Hormuz pada Rabu, (3/5/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Garda Revolusi Iran menyita kapal kargo Israel di Selat Hormuz. Penyitaan ini dilakukan beberapa hari setelah Teheran mengatakan mereka dapat menutup rute pelayaran penting itu dan memperingatkan akan membalas serangan Israel di Suriah.

Kantor berita Iran, IRNA melaporkan helikopter Garda Revolusi mendarat dan membawa kapal berbendera Portugal, MSC Aries ke perairan Iran. IRNA mengatakan kapal itu memiliki hubungan dengan Israel. MSC yang mengoperasikan Aries mengkonfirmasi Iran menyita kapalnya. Perusahaan itu mengatakan sedang bekerja sama dengan "pihak berwenang yang relevan" untuk pengembalian kapal dan keselamatan 25 awaknya.

Baca Juga

MSC menyewa Aries dari Gortal Shipping yang berafiliasi dengan Zodiac Maritime. Dalam pernyataannya, Sabtu (13/4/2024) Zodiac mengatakan MSC bertanggung jawab atas semua aktivitas kapal itu. Sebagian Zodiac dimiliki pengusaha Israel Eyal Ofer.

Stasiun televisi Iran menyiarkan video yang menunjukkan penyitaan itu termasuk benda yang terlihat seperti helikopter turun ke kapal. Kapal di dalam video dikonfirmasi sebagai MSC Aries tapi tidak diketahui kapan direkam.

Peristiwa ini terjadi saat naiknya ketegangan di kawasan sejak serangan Israel ke Gaza bulan Oktober lalu. Israel dan Amerika Serikat (AS) berulang kali bentrok dengan kelompok-kelompok yang didukung Iran di Lebanon, Suriah, Irak dan Yaman.

Iran mengancam akan membalas serangan Israel yang menewaskan tujuh orang termasuk  dua perwira senior Garda Revolusi ke kantor konsulat Iran di Suriah pada 1 April lalu. Presiden AS Joe Biden memprediksi serangan Iran ke Israel akan terjadi "lebih cepat, dibandingkan terlambat" dan memperingatkan Teheran tidak melakukannya.

"Iran akan menanggung konsekuensi bila memiliki menaikan ketegangan lebih lanjut atas situasi ini," kata juru bicara militer Israel Laksamana Muda Daniel Hagari dalam menanggapi laporan penyitaan MSC Aries. Menteri Luar Negeri Israel Israel Katz menuduh Iran melakukan pembajakan.

Pada Selasa (9/4/2024) lalu Kepala Angkatan Laut Garda Revolusi Iran Alireza Tangsiri mengatakan ia dapat menutup Selat Hormuz yang terletak antara Iran dan Uni Emirat Arab (UEA) bila diperlukan. Ia mengatakan Iran menganggap kehadiran Israel di UEA sebagai ancaman.

Israel memulihkan hubungan diplomatik dengan UEA pada tahun 2020 lalu melalui "Perjanjian Abraham" yang dimediasi AS. Pengamat dari International Institute for Strategic Studies Hasan Alhasan mengatakan bila penyitaan MSC Aries merupakan balasan Iran atas serangan Israel ke kantor konsulatnya di Damaskus, menunjukkan keinginan Iran untuk menyelamatkan wajahnya tanpa mendorong eskalasi lebih luas.

"Iran mungkin mencoba bermain dengan ketakutan mereka dapat mengganggu pelayaran melalui selat, jalur yang lebih penting bagi pengiriman pasokan minyak dan gas dunia dibandingkan Laut Merah," katanya.

"Bila Iran membatasi diri dengan menyita kapal-kapal yang memiliki hubungan dengan Israel maka akan meminimalisir resiko konflik skala penuh tapi merusak kredibilitasnya sendiri," tambah Alhasan.

Houthi yang didukung Iran sudah mengganggu perdagangan dunia dengan menyerang kapal-kapal komersial di Laut Merah selama berbulan-bulan. Serangan-serangan itu bagian dari solidarita pada rakyat Palestina di Gaza yang dibombardir Israel sejak Oktober lalu.

AS dan Inggris membalas serangan-serangan tersebut dengan menyerang target Houthi. Pusat Informasi Maritim Gabungan yang dikelola koalisi angkatan laut Barat mengatakan kapal-kapal yang hendak berlayar di Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia, harus berhati-hati dan tidak berkeliaran.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement