Rabu 17 Apr 2024 20:13 WIB

Nekat Buka di Aljazair, KFC Digeruduk dan Terpaksa Tutup Logo

Warga Aljazair meradang KFC dibuka saat Gaza dibombardir.

Gedung restoran KFC di Aljir tanpa logo setelah digeruduk pengunjuk rasa pada Selasa (16/4/2024).
Foto: Algerie360/X
Gedung restoran KFC di Aljir tanpa logo setelah digeruduk pengunjuk rasa pada Selasa (16/4/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, ALJIR – Protes meletus di ibu kota Aljazair, Aljir, menyusul pembukaan cabang Kentucky Fried Chicken (KFC) pertama di negara tersebut di tengah genosida di Gaza pada Selasa (16/4/2024). Para pengunjuk rasa yang menggeruduk restoran cepat saji itu akhirnya berhasil memaksa KFC menutupi logo mereka.

Morocco World News melansir, puluhan pengunjuk rasa turun ke jalan dalam demonstrasi menentang raksasa makanan cepat saji Amerika tersebut, mengutuk hubungan mereka dengan Israel. Protes diadakan di Lapangan Dali Ibrahim.

Baca Juga

Para pengunjuk rasa menyerukan boikot terhadap semua produk yang mendukung pendudukan Israel, termasuk KFC. Mereka menuntut pihak berwenang untuk menutup cabang tersebut, sambil memegang poster bertuliskan “Boikot KFC.”

Video online menunjukkan bahwa demonstrasi tersebut menyebabkan intervensi polisi yang menggunakan gas air mata untuk membubarkan para pengunjuk rasa.

Pembukaan cabang KFC di Aljazair memicu kemarahan di platform media sosial, terutama karena hal tersebut bertepatan dengan kampanye boikot yang sedang berlangsung untuk memprotes perang berdarah Pasukan Pendudukan Israel (IOF) di Gaza.

“Mereka yang menyetujui pembukaan KFC di Aljazair adalah pengkhianat terhadap nilai-nilai bangsa,” kata salah satu pengguna di X. Pengguna media sosial lainnya menggambarkan tindakan tersebut sebagai hal yang “sangat memalukan.”

Aljazirah Arabia melansir, setelah unjuk rasa itu beredar banyak video yang mendokumentasikan momen logo Kentucky dikaburkan dengan tutup hitam dari restoran yang baru dibuka dua hari lalu. 

Di Aljazair, KFC merupakan anak perusahaan Yum Brands yang awalnya merupakan divisi dari PepsiCo. Perusahaan ini menghadapi boikot di seluruh dunia karena dukungannya terhadap pendudukan Israel.

Restoran cepat saji adalah salah satu dari banyak merek yang terkena dampak kampanye boikot atas dukungan mereka terhadap pendudukan Israel. Ini termasuk McDonalds, Starbucks, Coca-Cola, Zara, dan lain-lain.

Khususnya, di bidang makanan cepat saji, boikot tersebut sangat mempengaruhi penjualan McDonald's, dengan chief financial officer perusahaan tersebut Ian Borden mengumumkan kerugian finansial sekitar 7 miliar euro.

Sebagai tanggapan, perusahaan memutuskan untuk membeli kembali seluruh 225 restorannya di Israel dari pewaralaba Alonyal. Boikot terhadap perusahaan-perusahaan yang mendukung Israel dan IOF pada umumnya telah mendapatkan perhatian di seluruh dunia, terutama di negara-negara mayoritas Muslim serta di seluruh Timur Tengah dan Afrika Utara.

Sejak dimulainya perang di Gaza pada bulan Oktober, pasukan penjajah Israel telah merenggut nyawa lebih dari 33.000 warga Palestina, kebanyakan anak-anak dan perempuan dan menyebabkan kehancuran yang meluas di jalur yang terkepung itu.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement