Rabu 24 Apr 2024 23:58 WIB

Menlu Retno: ASEAN Harus Bekerja Sama Atasi Tantangan Keamanan

Isu keamanan mencakup banyak dimensi, tidak hanya aspek militer dan politik.

Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi menekankan pentingnya kerja sama kolektif di antara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) untuk mengatasi tantangan keamanan kawasan
Foto: Yasuyoshi Chiba/Pool Photo via AP
Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi menekankan pentingnya kerja sama kolektif di antara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) untuk mengatasi tantangan keamanan kawasan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi menekankan pentingnya kerja sama kolektif di antara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) untuk mengatasi tantangan keamanan kawasan dan global.

Ketika berbicara dalam ASEAN Future Forum yang diselenggarakan di Hanoi, Vietnam, pada Rabu, dia memaparkan bahwa isu keamanan mencakup banyak dimensi, tidak hanya aspek militer dan politik, tetapi juga sosial, ekonomi, dan lingkungan.

“Dalam pidato, saya sampaikan bahwa bagi ASEAN, isu keamanan adalah bagian penting dari cerita mengenai ASEAN,” kata Retno, yang menyampaikan pernyataan pers secara daring.

Ia menyoroti bagaimana lanskap keamanan kawasan dan global sekarang ini berubah dengan cepat, mulai dari rivalitas kekuatan besar, perang yang terus berlanjut di Ukraina dan Gaza, konflik di Myanmar, serta tantangan perubahan iklim, ketahanan pangan dan energi, serta meningkatnya kejahatan lintas batas.

Kemajuan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dan big data di satu sisi disebutnya membawa manfaat besar, tetapi di sisi lain menjadi tantangan besar bagi keamanan, sehingga memerlukan respons inovatif dan adaptif.

“Tren ini bukan hanya berdampak bagi dunia saat ini, tetapi juga akan menentukan masa depan kita, termasuk masa depan ASEAN,” katanya.

Oleh karena itu, dalam pidatonya Retno menyampaikan beberapa pemikiran mengenai bagaimana ASEAN dapat terus tumbuh di tengah situasi yang terus berubah.

Pertama, Retno menyebut ASEAN harus terus memerankan kepemimpinannya dalam pengembangan arsitektur dan kerja sama di Indo-Pasifik.

“Saya tekankan mengenai pentingnya ASEAN yang kuat dan bersatu. ASEAN yang relevan, ASEAN yang matters dan berperan sentral di kawasan. ASEAN yang dapat merespons berbagai tantangan di kawasan dengan sigap,” tutur dia.

Ia pun mengatakan bahwa ASEAN harus memastikan Indo-Pasifik tetap menjadi kawasan yang damai, terbuka, dan inklusif—yang mengedepankan dialog dan kolaborasi konkret dengan pendekatan win-win dan bukan pendekatan zero-sum.

Selain itu, penghormatan dan implementasi hukum internasional perlu dijalankan secara konsisten.

Oleh karena itu, kata Retno, pengarusutamaan implementasi ASEAN Outlook on the Indo-Pacific dalam seluruh mekanisme ASEAN menjadi sangat penting, sebagaimana ditunjukkan Indonesia selama keketuaannya tahun lalu dengan menyelenggarakan ASEAN-Indo Pacific Forum dan penguatan hubungan dengan Pacific Island Forum dan Indian Ocean Rim Association (IORA).

Kedua, Menlu Retno menegaskan bahwa ASEAN harus memiliki pendekatan yang komprehensif untuk isu keamanan.

Isu ketahanan pangan, energi, dan keuangan diproyeksikan akan menjadi tantangan ekonomi utama yang dihadapi ASEAN di masa depan.

“Kita telah menyaksikan bersama bagaimana konflik di Ukraina, perubahan iklim, dan pandemi Covid-19 telah memperparah tantangan sosial ekonomi tahun lalu. Dan tahun ini, situasi di Gaza dan Palestina secara umum menciptakan ketidakadilan dan ketidakpastian yang lebih parah,” katanya.

Karena itu lah, pada keketuaannya tahun lalu di ASEAN, Indonesia Indonesia mendorong penguatan kerja sama di sektor ketahanan pangan, energi, dan keuangan karena Indonesia ingin memperkokoh ketahanan sosial-ekonomi ASEAN.

Selain itu, Retno juga menyampaikan bahwa ASEAN juga harus dapat mengatasi risiko keamanan yang timbul dari digitalisasi dan perkembangan teknologi terkini seperti AI dengan mendorong dan turut menentukan tata kelola digital global, serta menjembatani kesenjangan digital dan memperkuat literasi digital.

“Transformasi digital harus menjadi ‘force enabler for the global common good’ atau kekuatan yang memungkinkan kita meraih kebaikan global secara bersama,” kata dia dalam forum tersebut.

ASEAN Future Forum diselenggarakan oleh Vietnam sebagai platform pertukaran pandangan dan ide mengenai masa depan ASEAN dalam bentuk track 1.5 dengan melibatkan wakil dari pemerintah, para pakar, akademisi, praktisi, dan pengusaha.

Forum itu mengangkat tema “Toward fast and sustainable growth of a people-centered community.”

Dua kepala pemerintahan hadir dalam acara pembukaan, yaitu Perdana Menteri Vietnam Pham Minh Chinh dan Perdana Menteri Laos Sonexay Siphandone, sebagai ketua ASEAN tahun ini.

Sementara itu, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim sebagai ketua ASEAN selanjutnya dan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyampaikan sambutan melalui pesan video.

Menlu Retno sendiri diundang sebagai lead speaker pada sesi kedua dengan tema “Ensuring comprehensive security for a people-centered ASEAN Community.”

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement