Ahad 28 Apr 2024 17:32 WIB

Angkat Tema Pernikahan, Mahasiswi Indonesia Raih Penghargaan Film Dokumenter di China

Get Married sebenarnya adalah cerita mengenai keluarga Lidya.

Mahasiswi tingkat doktoral di Universitas Jinan, Lidyana (kedua dari kiri), menerima penghargaan
Foto: Antara/Beijing Normal University
Mahasiswi tingkat doktoral di Universitas Jinan, Lidyana (kedua dari kiri), menerima penghargaan "Third Prize" dalam kompetisi "Looking China Youth Film Project 2024" pada Kamis (25/4/2024) di Beijing Normal University, Beijing, China.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Mahasiswi Indonesia, Lidyana, meraih "Third Prize" dalam kompetisi "Looking China Youth Film Project 2024" melalui film dokumenter karyanya berjudul "Get Married". Penghargaan ini diterima Lidyana pada Kamis (25/4/2024) di Beijing Normal University, Beijing, China.

"Get Married", kata Lidyana, sebenarnya adalah cerita mengenai keluarganya. "Saya kemudian memberi tahu kerabat di kampung halaman kakek di Jieyang tentang pernikahan saya dan kebetulan putra dari sepupu saya juga akan menikah, jadi film ini mengenai pernikahan di China," ujarnya.

Baca Juga

"Looking China Youth Film Project" sendiri sudah berlangsung 10 kali dan merupakan kerja sama Yayasan Huilin, Academy for International Communication of Chinese Culture (AICCC), serta  Beijing Normal University. Program itu diikuti para pelajar dari berbagai negara di China.

Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok untuk datang ke berbagai wilayah di China. Di sana, mereka membuat film dokumenter tentang realitas, tradisi, dan budaya China. Lidyana mengaku bahwa dirinya sebenarnya belum pernah belajar tentang pembuatan film.

Namun, ujarnya, ada seorang dosen yang menawarinya untuk mengikuti kegiatan tersebut.  "Awal pembuatan agak bingung harus mulai dari mana, lalu pilih tema apa. Tapi, saya bekerja dalam kelompok bersama dua orang mahasiswa China yang memang belajar khusus tentang perfilman, jadi dibantu mereka," ungkapnya.

Lidyana saat ini sedang belajar linguistik dan linguistik terapan untuk jenjang doktoral di Universitas Jinan, Provinsi Shandong. Ia memilih tema pernikahan karena ia sendiri belum pernah melihat orang China menikah.

"Jadi ingin tahu, apakah sama dengan pernikahan Tionghoa di Indonesia, lalu anak zaman sekarang kan lebih suka budaya Barat, yang budaya Timur mulai pudar," katanya. "Inginnya sih mengimbau agar anak muda tetap melestarikan budaya atau setidaknya tahu budaya sendiri," ujarnya lagi.

Lidyana, yang sudah sejak 2012 tinggal dan menuntut ilmu di China, mengungkapkan bahwa dirinya hanya punya waktu 15 hari untuk membuat film dokumenter dengan durasi 12 menit 39 detik tersebut. "Keponakan saya menikah bulan April 2023 di Jieyang, Provinsi Guandong. Saya sendiri menikah pada Juli 2023 di Indonesia dan China," katanya. 

Saat mengambil video mengenai keponakannya itu, Lidyana mengaku merasakan keindahan budaya kampung halaman kakeknya sekaligus kekayaan ciri khas budaya pernikahan Chaoshan. "Kalau ada kesempatan untuk membuat film lain, ya pasti mau buat lagi tapi untuk karier ke depan belum tahu, mungkin akan jadi guru di sini karena suami juga orang China jadi ke depannya tetap di China," ungkap Lidyana.

Program "Looking China Youth Film Project" sendiri telah diikuti 1.008 anak muda pembuat film dari 30 provinsi di China yang memproduksi 950 film dokumenter pendek dan memenangkan lebih dari 180 penghargaan internasional.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement