Rabu 15 May 2024 03:19 WIB

1.000 Lebih Anggota Hamas Jalani Pengobatan di Turki

Ankara menganggap Hamas sebagai organisasi perlawanan yang tanahnya diduduki 1947.

Bangunan-bangunan hancur saat warga Palestina kembali ke Khan Younis setelah militer Israel menarik pasukan dari Jalur Gaza selatan, 22 April 2024.
Foto: EPA-EFE/MOHAMMED SABER
Bangunan-bangunan hancur saat warga Palestina kembali ke Khan Younis setelah militer Israel menarik pasukan dari Jalur Gaza selatan, 22 April 2024.

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Lebih dari 1.000 anggota Hamas menjalani pengobatan medis di rumah sakit Turki, kata Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Senin (13/5/2024), seraya mengingatkan kembali kelompok perlawanan Palestina itu tidak dianggap teroris oleh Ankara.

“Di negara saya, 1.000 lebih anggota Hamas saat ini mendapat pengobatan di rumah sakit kami ... Begitu banyak anggota Hamas yang terbunuh. Negara Barat menyerang mereka dengan semua jenis senjata dan amunisi,” kata Erdogan usai melakukan pembicaraan dengan Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis, yang memiliki pandangan berbeda tentang Hamas, dilansir Sputnik.

Sikap Yunani adalah Israel berhak membela diri dari “serangan yang masuk ke wilayahnya,” kata Mitsotakis kepada awak media. Dia menambahkan bahwa “Hamas adalah organisasi teroris yang tidak mewakili rakyat Palestina”.

Sementara itu, Erdogan menyebut pernyataan demikian sebagai sebuah “pendekatan yang kejam.” “Saya tidak menganggap Hamas sebagai organisasi teroris… Jika Anda menyebutnya sebagai organisasi teroris di sini [di Turki], kami akan kecewa,” kata Erdogan menegaskan.

Ankara menganggap Hamas sebagai “organisasi perlawanan yang tanahnya diduduki sejak 1947” dan yang “berjuang untuk melindungi tanah tersebut dari serangan Israel yang tanpa belas kasihan", katanya.

Pada Senin lalu Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melancarkan apa yang mereka sebut sebagai operasi kontraterorisme di Rafah, di perbatasan dengan Mesir. IDF mulanya menginvasi wilayah timur kota Rafah dan menguasai sisi Gaza di perbatasan Rafah. Kemudian pada Jumat media Israel melaporkan bahwa kabinet militer Israel telah menyetujui perluasan operasi darat.

Menurut otoritas, operasi tersebut bertujuan untuk melenyapkan sisa-sisa batalion Hamas di Jalur Gaza. Pada 7 Oktober 2023 Hamas meluncurkan serangan roket besar-besaran terhadap Israel dan menerobos perbatasan serta menyerang lingkungan sipil dan pangkalan militer. Akibatnya, hampir 1.200 orang di Israel tewas dan sekitar 240 lainnya disandera.

Israel lantas melakukan serangan balasan dan memerintahkan pengepungan total terhadap Gaza dan juga memulai serangan darat ke daerah kantong Palestina itu, dengan maksud membumihanguskan petempur Hamas dan menyelamatkan para sandera. Hingga kini lebih dari 35.000 orang terbunuh akibat serangan Israel di Jalur Gaza, menurut otoritas setempat. Lebih dari 100 sandera juga diyakini masih ditahan Hamas di Gaza.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement