Kamis 16 May 2024 00:00 WIB

Pemeriksaan Mental Dini Jadi Prioritas Perkembangan Anak di China

Menelisik kondisi mental anak sejak dini untuk mengetahui kondisi abnormal sejak dini

Perkembangan psikologis dan perilaku menjadi salah satu fokus dalam pemantauan pertumbuhan bayi dan anak di China, di samping progresi tinggi dan berat, serta kemajuan dalam pertumbuhan tulang.
Foto: www.freepik.com
Perkembangan psikologis dan perilaku menjadi salah satu fokus dalam pemantauan pertumbuhan bayi dan anak di China, di samping progresi tinggi dan berat, serta kemajuan dalam pertumbuhan tulang.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Perkembangan psikologis dan perilaku menjadi salah satu fokus dalam pemantauan pertumbuhan bayi dan anak di China, di samping progresi tinggi dan berat, serta kemajuan dalam pertumbuhan tulang.

Saat memberikan paparannya, dr. Jiang Jingxiong yang merupakan Deputi Direktur Komite Pertumbuhan Dini Anak China (CAIBOCD) di Beijing, China pada Selasa (14/5), menyebut bahwa menelisik kondisi mental anak sejak dini tak hanya soal memastikan jika ada kondisi abnormal yang perlu ditangani.

Namun, menurutnya hal tersebut juga penting untuk memetakan potensi terkait bakat dan kemampuan sang anak.“Langkah dan upaya yang harus segera dilakukan sebagai solusi penanganan masalah nutrisi pada anak dapat dimulai dengan investasi pada 1.000 hari pertama kehidupan,” ujarnya.

Mencapai kemampuan untuk beradaptasi dalam situasi sosial dan secara intelektual juga menjadi salah satu target kesehatan anak yang perlu dicapai dalam kebijakan pihaknya.

Salah satu cerminan dari kebijakan tersebut diterapkan di rumah sakit ibu dan anak (RSIA) Amcare di Beijing, yang memiliki satu unit khusus guna menangani berbagai kondisi mental tertentu.

Direktur Kedokteran Anak rumah sakit tersebut, dr. Fan Xiyong, saat dijumpai pada Rabu (15/5), mengatakan bahwa unit itu dilengkapi dengan dokter spesialis kejiwaan serta dokter anak untuk memastikan bahwa pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh dan komprehensif.

“Saya rasa yang paling banyak dijumpai (di RS ini) adalah autisme atau gejala autisme. Karena ada beberapa kasus di mana kami menemukan risiko isu perilaku namun setelah sekitar usia tiga tahun, gejala tersebut hilang,” ujarnya.

Selain autisme, gejala ‘attention-deficit/hyperactivity disorder’ (ADHD) menjadi kondisi dengan prevalensi tertinggi kedua di rumah sakitnya tersebut.

Sesi konseling dengan orang tua sebagai ‘caretaker’ juga menjadi salah satu kunci dalam penanganan kondisi mental anak.

“Pada awalnya orang tua mungkin tak mudah untuk menerima (kondisi yang dialami anaknya). Namun kami terus menerus memberikan mereka informasi dan bagaimana mereka dapat menangani kondisi tersebut. Seiring waktu berjalan, mereka mulai dapat menerima dan mengikuti program kami,” pungkasnya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement