Jumat 17 May 2024 11:22 WIB

Illan Pappe, Sejarawan yang Prediksi Kejatuhan Israel Diperiksa Saat Masuk AS, Ada Apa?

Pappe menilai tim yang menginterogasinya mengajukan pertanyaan di luar nallar

Tentara Israel membawa peti berisi jenazah tentara Israel yang tewas di Gaza saat pemakaman militer Kiryat Shaul di Tel Aviv, Israel, Ahad, 12 Mei 2024.
Foto: AP Photo/Oded Balilty
Tentara Israel membawa peti berisi jenazah tentara Israel yang tewas di Gaza saat pemakaman militer Kiryat Shaul di Tel Aviv, Israel, Ahad, 12 Mei 2024.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejarawan Israel, Ilan Pappe diperiksa dan diinterogasi oleh Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat setibanya di AS, awal pekan ini. 

Seperti dilansir Middle East Eye, Kamis (16/5/2024), akademisi yang punya pandangan anti-Zionis ini tiba di Amerika Serikat melalu bandara Detroit. Di sana ia diinterogasi selama dua jam. 

Baca Juga

Di antara pertanyaan yang diajukan kepadanya adalah apakah ia pendukung Hamas. Kemudian petugas juga menggali pandangan Pappe soal serangan ke Israel ke Gaza apakah bagian dari genosida.  

"Dua tim datang dengan cara yang tidak kasar, tapi menurut saya pertanyaannya benar-benar di luar nalar!" ujar Pappe dalam laman Facebook. 

"Mereka melakukan pembicaraan dengan seseorang, adan setelah menyali isi telepon saya mereka baru mengizin masuk," katanya. 

Pappe dikenal dengan pandangan-pandangannya yang kritis terhadap aksi pendudukan Israel di Palestina. 

Ramalkan kehancuran Israel

menurut sejarawan Israel, Illan Pappe sudah pada tahap yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hal itu bahkan telah disampaikan oleh Pappe pada Februari 2024 lalu dalam pidato di IHRC atau jauh sebelum serangan Raffah. 

"Jadi saya pikir ini adalah sebuah momen gelap yang kita alami, dan ini merupakan momen hitam karena eliminasi bangsa Palestina sudah mencapai level baru, belum pernah terjadi sebelumnya," ujar Illan Pappe. 

Bahkan, menurut Pappe, tragedi Nakba yang tak pernah terbayangkan sebelumnya tidak bisa dibandingkan dengan kejahatan seperti dilihat sekarang. "Apa yang ada di pikiran saya sekarang dari tiga bulan pertama dalam periode dua tahun akan menjadi saksi kengerian Israel terhadap bangsa Palestina," ujarnya. 

Namun, kata Pappe, pada saat kelam seperti sekarang, harus dapat dipahami bahwa proyek permukiman illegal yang memecah belah akan selalu digunakan utuk menyelamatkan proyek besar mereka. Ini seperti terjadi di Afrika Selatan dan Vietnam Selatan. Meski demikian, ia yakin Zionis sedang menghadapi masa kehancurannya. 

"Saya tidak mengatakan ini sebagai sebuah angan-angan, dan saya tidak mengatakan ini sebagai seorang aktivis politik, saya mengatakan ini sebagai seorang sarjana Israel dan Palestina dengan segala keilmuan saya," ujarnya. 

"Berdasarkan analisis sebagai seorang profesional, saya menyatakan bahwa kita sedang menyaksikan akhir dari proyek Zionis, tidak dapat diragukan lagi."

Menurutnya, proyek bersejarah itu akan segera berakhir. Seperti halnya proyek-proyek di belahan wilayah lain yang runtuh dengan kekerasan. Korban proyek ini, kata ia, selalu bangsa Palestina bersama Yahudi. "Karena Yahudi juga korban dari Zionis. Proses keruntuhan ini bukan sekadar harapan, tapi juga 'fajar yang menyingsing setelah kegelapan'." 

Dalam sebuah kesempatan terpisah, Pappe juga memproyeksikan bahwa Israel akan hancur dan berakhir. Indikasi itu, kata ia, dapat dilihat dari minimnya kohesi sosial yang ada di dalam Israel. "Ini seperti kalimat yang 'ringan', tapi merupakan isu yang serius," ujarnya.

Tak dapat dukungan dunia

Selain itu Pappe juga melihat masalah ekonomi yang ada di tubuh Israel. Mereka akan menghadapi krisis ekonomi yang tidak pernah terjadi sebelumnya. "Akan sangat sulit," kata ia. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement