Rabu 29 May 2024 12:05 WIB

Macron Ditanya Apakah Prancis akan Mengakui Negara Palestina: Saya Siap, Tapi ...

Prancis belum mengakui Palestina sebagai negara berdaulat

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan negaranya siap mengakui Palestina.
Foto: EPA-EFE/Aurelien Morissard
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan negaranya siap mengakui Palestina.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW — Prancis siap mengakui kedaulatan negara Palestina, namun hal tersebut baru akan dinyatakan pada waktu pengakuan semacam itu akan "berguna", demikian menurut Presiden Prancis Emmanuel Macron.

"Saya sangat siap untuk mengakui Negara Palestina, tapi saya percaya pengakuan itu harus diberikan saat hal tersebut berguna. Saya tidak akan menyatakan pengakuan atas dasar 'emosi' belaka," kata Macron dalam konferensi pers bersama Kanselir Jerman Olaf Scholz, Selasa (28/5/2024)

Baca Juga

Dalam pernyataan yang disiarkan media sosial resmi kepresidenan Prancis itu, ia menegaskan bahwa mewujudkan gencatan senjata di Jalur Gaza harus menjadi prioritas saat ini.

Dia juga mengatakan bahwa Israel harus dengan serta-merta menghentikan operasi militer di Kota Rafah di Gaza selatan, tempat di mana ratusan ribu rakyat Palestina mengungsi dari serangan Israel.

Hingga Selasa, Palestina baru diakui 11 dari 27 negara anggota Uni Eropa (EU). Delapan negara, Bulgaria, Siprus, Republik Ceko, Hungaria, Malta, Polandia, Romania, dan Slovakia, sudah mengakui Palestina sejak 1988 sebelum bergabung ke EU. Swedia kemudian mengakui Palestina pada 2014.

Pekan ini, negara anggota EU Spanyol dan Irlandia, serta Norwegia yang bukan negara anggota EU, resmi mengakui negara Palestina.

Ahad (25/5/2024) lalu, serangan roket Israel ke kamp pengungsi di Kota Rafah menewaskan sekurangnya 40 warga Palestina dan melukai puluhan lainnya.

Perdana  Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Senin (27/5/2024) menyebut serangan udara ke kamp pengungsi tersebut sebagai "insiden tragis" serta berjanji akan menyelidiki hal tersebut. Padahal, pihak militer Israel menyebut senjata yang mereka gunakan adalah senjata "presisi".

Di lokasi terpisah, Amerika Serikat mendesak Israel untuk melakukan penyelidikan internal setelah Tel Aviv melancarkan serangan udara mematikan di kamp pengungsi di Rafah akhir pekan lalu, yang menewaskan dan melukai puluhan warga sipil Palestina.

Juru Bicara Departemen Luar Negeri Matthew Miller mengatakan Amerika Serikat segera menghubungi Israel ketika berita mengenai serangan itu tersiar untuk mengungkapkan keprihatinan mendalam atas apa yang terjadi, meminta informasi lebih lanjut, dan mendesak Tel Aviv untuk melakukan penyelidikan penuh.

Miller mengatakan Amerika Serikat juga telah mencatat klaim Israel bahwa insiden itu mungkin disebabkan oleh serangan terhadap gudang amunisi kelompok pejuang Palestina, Hamas.

“Tidak jelas bagi saya apakah mereka benar-benar mengetahuinya, tetapi mereka perlu mencari tahu, mereka perlu melakukan penyelidikan. Kami akan menunggu penyelidikan tersebut dan menekan mereka untuk memastikan bahwa hasil penyelidikan disajikan secara terbuka dan secara transparan kepada kami dan dunia,” kata dia kepada wartawan, Selasa (28/5/2024).

Meskipun menuntut penyelidikan internal ke Israel, Miller menegaskan bahwa tidak ada perubahan kebijakan Amerika Serikat terhadap konflik Israel dan Hamas di Jalur Gaza.

Militer Israel merangsek masuk Kota Rafah pada 7 Mei, tujuh bulan setelah melancarkan agresi besar-besaran ke Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023 sehingga menyebabkan eskalasi konflik terbesar di kawasan tersebut dalam beberapa dasawarsa.

Kabinet Israel bertekad untuk terus melanjutkan serangan di Rafah hingga seluruh pejuang Hamas Palestina "musnah". 

photo
BUKTI GENOSIDA ISRAEL - (Republika)

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement