Jumat 05 Jan 2018 00:15 WIB

Ilmuwan Temukan Virus Peningkat Kekebalan Obati Tumor Otak

Tumor otak
Tumor otak

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Sebuah percobaan pengobatan kanker otak baru yang potensial telah menunjukkan virus yang disuntikkan langsung ke aliran darah dapat mencapai tumor jauh di dalam otak dan menghidupkan sistem pertahanan tubuh untuk menyerang mereka.

Percobaan hanya melibatkan sembilan pasien, namun para ilmuwan mengatakan jika hasilnya dapat direplikasi dalam penelitian yang lebih besar, 'reovirus' yang terjadi secara alami dapat dikembangkan menjadi terapi imun yang efektif untuk orang-orang dengan tumor otak agresif.

"Ini adalah pertama kalinya ditunjukkan virus terapeutik dapat melewati penghalang darah-otak," kata Adel Samson, seorang ahli onkologi medis di Institut Kanker dan Patologi Universitas Leeds yang memimpin penelitian tersebut.

Dia mengatakan percobaan mereka telah menunjukkan tidak hanya virus yang dapat dikirim ke tumor yang jauh di dalam otak, namun saat mencapai sasarannya, virus tersebut merangsang pertahanan kekebalan tubuh untuk menyerang kanker.

Diterbitkan di jurnal Science Translational Medicine pada Rabu (3/1), percobaan melibatkan sembilan pasien dengan tumor yang menyebar ke otak dari daerah lain atau glioma yang tumbuh dengan cepat, sejenis kanker otak yang agresif. Semua pasien dijadwalkan operasi mengangkat tumor mereka, namun pada hari-hari sebelumnya mereka diberi satu dosis reovirus yang diberikan melalui infus intravena ke dalam aliran darah.

Setelah tumor diangkat, para ilmuwan menganalisis sampel untuk mengetahui apakah virus tersebut telah mampu mencapai kanker, yang dalam beberapa kasus berada jauh di dalam otak. Pada semua sembilan pasien, terdapat bukti virus tersebut telah mencapai targetnya, menurut mereka. Terdapat juga tanda-tanda virus yang bereplikasi merangsang sistem kekebalan tubuh, dengan sel darah putih atau yang disebut sel-T "pembunuh" yang tertarik ke tumor untuk menyerangnya.

Karena virus hanya menginfeksi sel kanker dan menyisakan sel sehat saja, pasien yang mendapat pengobatan eksperimental hanya melaporkan efek samping ringan seperti gejala mirip flu. Hingga terdapat hasil positif ini, para ilmuwan sempat meragukan apakah virus tersebut bisa masuk ke otak oleh karena membran penghalang darah-otak.

Meski begitu, menyuntikkan virus langsung ke otak akan sulit dan berpotensi berbahaya. Alan Melcher dari Institut Penelitian Kanker Inggris, yang juga memimpin penelitian tersebut, mengatakan bahwa hasilnya menunjukkan jalan kemajuan untuk melakukan banyak percobaan lainnya dengan menggunakan virus tersebut, termasuk menguji apakah bisa memanfaatkan sistem kekebalan tubuh untuk memberi dukungan efek kemoterapi dan perawatan radioterapi yang ada.

"Sekarang kita tahu kita dapat membuat reovirus melintasi penghalang darah-otak, kita telah memulai studi klinis untuk melihat seberapa efektif terapi imun virus ini," katanya.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement