Jumat 26 Apr 2024 21:43 WIB

Zelenskyy Cemas Menanti Bantuan Amerika yang tak Kunjung Pasti

Ukraina siap bekerja sama dengan presiden AS yang akan terpilih nanti.

Presiden Ukrainia Volodymyr Zelenskyy
Foto: AP Photo/Markus Schreiber
Presiden Ukrainia Volodymyr Zelenskyy

REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL -- Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, Kamis (25/4/2024), mengatakan, Ukraina harus mendorong Rusia kembali ke wilayahnya untuk mencapai keamanan nyata.

"Jika kita membutuhkan keamanan yang nyata, jika kita benar-benar ingin memiliki keamanan yang kuat selama berhari-hari, bertahun-tahun, puluhan tahun demi masa depan keamanan kawasan kita, kita perlu menempatkannya dan memindahkannya (Rusia) ke wilayahnya," kata Zelenskyy dalam sebuah wawancara dengan Fox News.

Baca Juga

Dia mengatakan, Ukraina akan menghadapi "tantangan besar" dengan Rusia jika dialog yang berbasis retorika dan ketidakpastian di Barat terus berlanjut. Mengomentari anggota parlemen Amerika Serikat yang menolak paket bantuan senilai 60,8 miliar dolar AS (Rp 984 triliun) untuk Ukraina yang ditandatangani pada Rabu (24/4/2024) oleh Presiden AS Joe Biden, Zelenskyy mengatakan bahwa Washington harus tahu bahwa dana tersebut akan disalurkan pertama ke sektor pertahanan AS.

"Kami terutama membutuhkan senjata, ini bukan soal uang. Ini adalah pertanyaan tentang senjata. Bahkan mereka harus tahu bahwa produksinya akan mendapat uang puluhan miliar, lapangan kerja, pajak. Semuanya akan berada di Amerika Serikat," katanya.

Dia melanjutkan, sebagian dana tersebut juga akan disalurkan ke negara-negara Eropa lainnya, meski jumlahnya tidak besar. Zelenskyy juga mengatakan bahwa negaranya akan bekerja sama dengan presiden AS mana pun, apa pun hasil pemilu presiden Amerika akhir tahun ini.

"Saya berharap dia (Donald Trump) tidak menentang Ukraina, saya harap ini, tentu saja, ada perbedaan pandangan mengenai beberapa hal, dalam beberapa detail, tetapi jika kita memiliki pandangan dan nilai-nilai yang sama, tentu saja kita dapat bekerja sama," katanya. Dia juga menambahkan bahwa keputusan presiden adalah keputusan rakyat Amerika.

sumber : Antara, Anadolu
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement