Rabu 13 Sep 2017 08:14 WIB

Di Kairo, Negara Teluk Berdebat dengan Qatar

Rep: Marniati/ Red: Agus Yulianto
Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab Anwar Gargash
Foto: AP Photo/Kamran Jebreili
Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab Anwar Gargash

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO -- Diplomat dari Qatar dan empat negara yang memblokade negara Teluk telah berdiskusi hangat pada pertemuan Liga Arab di Kairo. Diskusi ini disiarkan secara langsung melalui saluran televisi.

Dalam pidato pembukaannya, Menteri Luar Negeri Qatar Sultan bin Saad al-Muraikhi menyebut Iran sebagai negara terhormat dan mengatakan hubungan Qatar dan Iran menjadi lebih baik sejak blokade tersebut. Sebagai tanggapan, Ahmed al-Kattan, utusan Arab Saudi ke Liga Arab, mengatakan Iran akan segera menyesali keputusannya karena memiliki hubungan diplomatik dengan Qatar.

"Jika saudara-saudara di Qatar berpikir bahwa mereka mungkin mendapat keuntungan dalam pendekatan mereka terhadap Iran, saya ingin mengatakan bahwa mereka memiliki penilaian yang salah dalam segala hal. Qataris akan bertanggung jawab atas keputusan tersebut," kata Kattan seperti dilansir Aljazirah, Rabu (13/9).

Ia menjelaskan, waktu akan membuktikan orang Qatar tidak akan pernah menerima orang-orang Iran untuk berperan di Qatar. Menteri Luar Negeri UEA untuk Urusan Luar Negeri Anwar Gargash mengatakan, krisis Teluk terus berlanjut karena keengganan Qatar untuk berdamai.

"Arah mereka perlu diubah dan kami akan melanjutkan kebijakan kami sampai Qatar mengubah kebijakan agresasinya terhadap empat negara yang memboikot, selama Doha mendukung dan mendanai terorisme dan campur tangan dalam urusan dalam negeri di Timur Tengah," kata Gargash.

Muraikhi menanggapi dengan mengatakan, bahwa krisis tersebut berawal saat Qatar News Agency (QNA) diretas oleh pelaku yang didukung UEA yang menyampaikan pernyataan salah kepada emir Qatar. "Kemudian kami melihat kampanye media jahat melawan Qatar, yang didukung oleh beberapa rezim. Anwar [Gargash] lupa menyebutkan bahwa empat negara pemblokiran mencoba sebuah tindakan militer terhadap negara saya pada 1996," kata Muraiki.

Muraikhi mengatakan, bahwa Arab Saudi ingin menggulingkan emir Qatar dan menggantikannya dengan Sheikh Abdullah bin Ali Al Thani, seorang sheikh Qatar yang kurang dikenal yang telah didorong ke pusat perhatian oleh blok yang dipimpin Saudi. "Ini adalah hal yang tidak pantas untuk dikatakan karena kerajaan Arab Saudi tidak akan menggunakan metode murah seperti itu dan kami tidak ingin mengubah rezim tersebut, tapi Anda juga harus tahu bahwa kerajaan dapat melakukan apapun yang dia inginkan, insyaallah," Kata Kattan.

Menteri Luar Negeri Mesir Sameh Shoukry mengaku, tidak dapat menerima komentar Muraikhi. "Kami tahu betul sejarah panjang Qatar dalam mendukung terorisme dan bahwa mereka telah menyediakan senjata dan dana di Suriah, Libya, bahkan di Yaman bahkan di Mesir yang membunuh begitu banyak," kata Shoukry.

Menurut Shoukry, Qatar mendukung sebuah pemerintahan Ikhwanul Muslimin yang terpilih secara demokratis di Mesir sebelum digulingkan oleh militer pada 2013. Negara-negara Arab telah menuntut Qatar memutuskan hubungan dengan Ikhwan dan kelompok lain yang mereka anggap sebagai teroris.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement