Jumat 03 Feb 2023 18:29 WIB

Menlu Turki: Barat Gagal Bagi Info Ancaman Keamanan

Sejumlah negara Barat menutup sementara konsulatnya di Istanbul.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nidia Zuraya
Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu menyatakan pada Jumat (3/2/2023), menuduh negara Barat gagal berbagi informasi tentang ancaman keamanan yang menyebabkan penutupan konsulat di Istanbul. Tindakan itu dinilai bertujuan untuk menyebabkan merugikan Turki.
Foto: ANTARA/Nyoman Budhiana
Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu menyatakan pada Jumat (3/2/2023), menuduh negara Barat gagal berbagi informasi tentang ancaman keamanan yang menyebabkan penutupan konsulat di Istanbul. Tindakan itu dinilai bertujuan untuk menyebabkan merugikan Turki.

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu menyatakan pada Jumat (3/2/2023), menuduh negara Barat gagal berbagi informasi tentang ancaman keamanan yang menyebabkan penutupan konsulat di Istanbul. Tindakan itu dinilai bertujuan untuk menyebabkan merugikan Turki.

"Mereka memberi tahu kami bahwa mereka memiliki informasi konkret bahwa ada ancaman. ... Tapi dari mana asalnya, dari mana ancamannya, siapa yang akan melaksanakannya? Tidak ada informasi tentang itu,” kata Cavusoglu.

Baca Juga

Cavusoglu bersikeras bahwa sembilan negara tersebut tidak berbagi informasi dengan pihak berwenang Turki tentang dugaan ancaman keamanan. Kementerian Luar Negeri Turki telah mengidentifikasi sembilan negara itu adalah Amerika Serikat(AS), Belanda, Swiss, Swedia, Inggris, Jerman, Belgia, Prancis, dan Italia.

"Kami meminta Kementerian Dalam Negeri kami. Mereka mengatakan tidak ada pembagian informasi yang konkret. ... Kami bertanya kepada badan intelijen kami. Tidak ada pembagian informasi yang konkret," ujar Cavusoglu.

Cavusoglu mengatakan, Turki mencurigai motif tersembunyi di balik penutupan konsulat, termasuk dugaan niat untuk menyakiti partai berkuasa Presiden Recep Tayyip Erdogan, Partai Keadilan dan Pembangunan. Ankara akan melakukan pemilihan presiden dan parlemen yang kemungkinan akan diadakan pada 14 Mei.

"Jika mereka berusaha menciptakan citra bahwa Turki tidak stabil dan ada ancaman terorisme, ini tidak sesuai dengan persahabatan atau semangat aliansi," kata Cavusoglu.

"Ini terutama benar sebelum pemilihan. Jika mereka mencoba menempatkan pemerintah (partai yang berkuasa), pemerintah Presiden, dalam situasi yang sulit, rakyat kita tahu betul apa yang ada di baliknya. ... Itu tidak akan memenuhi tujuan mereka," ujarnya.

Kedutaan Besar Jerman pekan ini mengutip risiko kemungkinan serangan balasan setelah insiden pembakaran Alquran di beberapa negara Eropa saat mengumumkan penutupan konsulatnya. Kedutaan Besar AS memperingatkan warganya tentang kemungkinan serangan terhadap gereja, sinagoga, dan misi diplomatik serta tempat-tempat lain yang sering dikunjungi orang Barat.

sumber : AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement