Selasa 28 Sep 2010 22:41 WIB

Citra Obama Makin Luntur?

Obama
Obama

REPUBLIKA.CO.ID,  NEW YORK--Di luar negeri, presiden AS Barack Obama tetap merupakan tokoh populer. Tapi di dalam negeri makin banyak kritik yang muncul, bahkan dari kalangan partainya sendiri. Tapi benarkan di dunia luar dia tetap populer?

Deutsche Welle Jerman mencoba meneropong poipularitas Obama dari berbagai pemberitaan di luar negeri. Harian liberal kiri Italia La Repubblica, misalnya, menulis betapa dunia setahun lalu gegap gempita menuliskan berita Barack Obama berpidato di sidang umum PBB di New York sebagai tokoh penerima hadiah Nobel Perdamaian dan pencetus apa yang disebut kelompok G2, yaitu Amerika Serikat dan Cina sebagai adidaya dunia. Sejak itu sudah lebih dua belas bulan berlalu, sang penerima Nobel perdamaian berusaha menunjukkan bahwa ia memang layak menerima hadiah itu. Ia berprakarsa memulai banyak hal yang hanya setengah selesai, tidak ada yang benar-benar rampung.

"Ia misalnya memutuskan berakhirnya perang Amerika Serikat di Irak, namun tetap menempatkan 50 ribu tentara di sana, yang hampir setiap hari jadi sasaran serangan," tulis media papan atas di negara itu. Sementara itu, krisis ekonomi dan jajak pendapat yang terus memburuk  menggerogoti kharisma yang didapatnya lewat nobel perdamaian.

Harian Belanda NRC Handelsblad dalam tajuknya menulis, dalam satu setengah bulan Obama akan menerima "rekening"-nya. Menurut berbagai jajak pendapat, kubu Demokrat memang masih punya mayoritas tipis di senat, namun di dewan perwakilan mereka akan menjadi minoritas. Jika perkiraan ini menjadi kenyataan, maka presiden akan kehilangan posisi kekuasaannya dan tidak bisa lagi meloloskan rancangan undang-undang sendiri.

"Selama tahun-tahun terakhir, Obama sudah mengalami kesendirian, betapa sulitnya meloloskan agenda reformasi melalui dewan perwakilan. Ia memang berhasil meloloskan undang-undang reformasi sektor kesehatan di Kongres. Namun sekarang, ketika uang harus dikucurkan untuk menerapkan undang-undang baru itu, kubu Republik berusaha menghambat langkah tersebut di instansi keuangan," tulisnya.

Mengenai situasi politik di Amerika Serikat, harian Austria Tages-Anzeiger berkomentar, kembalinya politisi barisan belakang ke panggung politik seperti misalnya Sarah Palin dan Christine O'Donnell, kandidat kubu Republik untuk negara bagian Delaware, adalah kesalahan Obama sendiri. Ia memerintah dengan kepala dingin, mengambil jarak dan menganggap enteng kekecewaan yang makin besar di dalam negeri maupun berbagai intrik cerdik lawan politiknya. "Sekarang Presiden AS akan merasakan akibatnya, yang bisa mengubah sisa masa kepresidenannya secara mendasar. Karena timnya sendiri sudah lelah dan kecewa, bahkan mungkin tidak terlalu peduli untuk membiarkan kubu Republik melakukan terobosan pada bulan November mendatang."

Harian Norwegia Aftenposten menyoroti isu perjanjian perubahan iklim yang makin sulit diwujudkan. Perjanjian perubahan iklim global, yang sebenarnya ingin disepakati di Kopenhagen, kata mereka, masih jauh dari realisasi seperti bulan Desember lalu. "Ini dramatis namun tidak mengejutkan. Banyak pimpinan pemerintahan yang malah tidak bermaksud datang ke pertemuan puncak iklim di Meksiko akhir tahun ini. Jadi yang akan terjadi di sana bukan pertemuan puncak melainkan pertemuan para birokrat. Negara kaya tidak ingin membayar, dan negara miskin yang emisinya paling cepat bertambah tidak mau dibebani kewajiban," tulis mereka.  Jika ingin dicapai kemajuan, kata mereka AS dan Cina harus bersama-sama memimpin. Namun dalam hal ini kedua negara untuk sementara gagal.

sumber : Deutsche Welle
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement