Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Bos Huawei: AS tak Dapat Hancurkan Kami

Selasa 19 Feb 2019 10:04 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Teguh Firmansyah

Huawei

Huawei

Foto: EPA
Dunia dinilai tak bisa meninggalkan Huawei karena mereka memiliki teknologi maju.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Pendiri Huawei Ren Zhengfei menegaskan, Amerika Serikat (AS) tidak memiliki kuasa untuk menghancurkan perusahaannya. Hal itu disampaikan Ren Menyusul penangkapan putrinya yang merupakan kepala keuangan perusahaan. Cina menganggap penangkapan itu bermotif politik.

"Tidak mungkin AS bisa menghancurkan kita," kata Ren  dalam wawancara ekslusif dengan BBC, Selasa (19/2). "Dunia tidak bisa meninggalkan kita (Huwaei) karena kita lebih maju. Bahkan jika mereka membujuk lebih banyak negara untuk tidak menggunakan kita sementara," kata Ren menambahkan.

Namun, dia mengakui potensi hilangnya langganan bisa berdampak signifikan. Karena itu perusahaan bisa menerapkan strategi dengan menerapkan penghematan. 

Ren berbicara ekslusif dengan wartawan BBC Karishma Vaswani dalam wawancara siaran internasional pertamanya sejak Meng ditangkap. Ren pun mengabaikan tekanan dari AS.

Baca Juga

Washington hingga kini tengah mengejar tuntutan pidana terhadap Huawei dan Meng dengan tuduhan pencucian uang, penipuan bank dan mencuri rahasia dagang. Namun, Huawei membantah melakukan kesalahan.

Pekan lalu, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo memperingatkan sekutu AS agar tidak menggunakan teknologi Huawei. Pompeo mengatakan, pemakaian Huawei akan mempersulit Washington.

Australia, Selandia Baru, dan AS telah melarang atau memblokir Huawei dari memasok peralatan untuk jaringan broadband seluler 5G mereka pada masa mendatang. Sementara Kanada masih meninjau apakah produk-produk perusahaan Ren menghadirkan ancaman keamanan yang serius atau tidak.

Ren juga memperingatkan, bahwa dunia tidak dapat meninggalkan Huawei sebab perusahaanya lebih maju. "Jika lampu di Barat padam, Timur akan tetap bersinar. Dan jika Utara menjadi gelap, masih ada Selatan. Amerika tidak mewakili dunia, Amerika hanya mewakili sebagian dari dunia," kata Ren.

photo

Stan Huawei di pameran komputer CeBIT di Hanover, Jerman utara, 12 Juni 2018.



Sementara itu, National Cyber ​​Security Centre Inggris memutuskan untuk menerima risiko yang ditimbulkan dengan menggunakan teknologi Huawei dalam proyek telekomunikasi Inggris yang dapat dikelola. Banyak perusahaan seluler Inggris, termasuk Vodafone, EE dan Three, bekerja sama dengan Huawei untuk mengembangkan jaringan 5G.

Perusahaan-perusahaan tersebut tengah menunggu tinjauan pemerintah hingga bulan Maret atau April. Pemerintah akan memutuskan apakah mereka dapat menggunakan teknologi Huawei atau tidak.

Mengomentari kemungkinan larangan Inggris, Ren mengatakan Huawei tidak akan menarik investasi karena masalah ini. "Kami masih percaya pada Inggris, dan kami berharap Inggris akan semakin mempercayai kami," ujarnya.

"Kami akan berinvestasi lebih banyak lagi di Inggris. Karena jika AS tidak mempercayai kami, maka kami akan mengalihkan investasi kami dari AS ke Inggris dalam skala yang lebih besar," Ren menambahkan.

Menyoal Putri Ren

Putri Ren, Meng Wanzhou, kepala keuangan Huawei, ditangkap pada 1 Desember 2018 di Vancouver atas permintaan AS.  Secara total, 23 tuduhan diajukan terhadap Huawei dan Meng.

Tuduhan tersebut dibagi dalam dua dakwaan oleh Departemen Kehakiman AS. Pertama mencakup klaim Huawei yang menyembunyikan hubungan bisnis ke Iran. Iran adalah negara yang dikenai sanksi perdagangan AS. Sedangkan yang kedua mencakup tuduhan percobaan pencurian rahasia dagang.

"Pertama, saya keberatan dengan apa yang telah dilakukan AS. Tindakan bermotivasi politik semacam ini tidak dapat diterima," katanya.

Menurut Ren, AS kerap memberi sanksi kepada negara lain setiap kali ada masalah. Sudah menjadi kebiasaan AS akan menggunakan metode agresif semacam itu. "Kami keberatan dengan ini. Tapi sekarang setelah kami melewati jalan ini, kami akan membiarkan pengadilan menyelesaikannya," tegar Ren.

Huawei merupakan perusahaan swasta terbesar di Cina. Perusahaan ini kini di bawah pengawasan untuk hubungannya dengan pemerintah Cina. Teknologi Huawei diduga digunakan oleh layanan keamanan Cina untuk memata-matai.

"Perusahaan kita tidak akan pernah melakukan kegiatan mata-mata. Jika kita melakukan tindakan seperti itu, maka saya akan mematikan perusahaan," Ren menutup.

Pria yang dikenal tertutup dan penyendiri ini optimistis memertahankan perusahaan yang dibangunnya selama 30 tahun.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA