Friday, 14 Sya'ban 1440 / 19 April 2019

Friday, 14 Sya'ban 1440 / 19 April 2019

Presiden Meksiko: Negara Jadi Pelaku Utama Pelanggaran HAM

Senin 25 Mar 2019 09:27 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Presiden baru Meksiko, Andres Manuel Lopez Obrador

Presiden baru Meksiko, Andres Manuel Lopez Obrador

Foto: The Independent
Sebanyak 10 ribu orang hilang di Meksiko.

REPUBLIKA.CO.ID, MEXICO CITY -- Presiden Meksiko Andres Lopez Abrador mengatakan di masa lalu negara adalah pelaku utama pelanggaran hak asasi manusia. Ia menyalahkan kebijakan pemerintah sebelumnya yang 'neo-liberal' atas kekerasan dan penghilangan paksa di Meksiko.

"Ada waktu di mana negara menjadi pelanggar hak asasi manusia yang utama, pelanggar hak asasi yang hebat, hal itu sudah berakhir," kata Lopez Obrador dalam acara yang berencana menghapus penghilangan paksa di Meksiko, Senin (25/3).

Sepuluh ribu orang tercatat menghilang di Meksiko. Negara itu sedang berperang melawan kartel-kartel narkoba dan bentrokan dengan pasukan keamanan dianggap penyebab kematian 200 ribu orang sejak 2006.

"Saya, sebagai presiden, dan di waktu yang sama komandan tertinggi angkatan bersenjata, tidak akan pernah memberikan perintah untuk melakukan pembantaian, untuk menindas rakyat Meksiko," kata Lopez Obrador.

Kekerasan di Meksiko kerap diselingi dengan pembunuhan massal. Paling keji terjadi pada 2014 di mana ada 43 siswa dan guru di sebelah barat kota Iguala dibantai.

Pemerintah mengatakan para siswa dibantai setelah polisi korup menyerahkan mereka ke gang narkoba setempat, yang membakar mayat mereka. Tapi masih banyak pertanyaan tentang nasib para guru. Insiden itu yang paling menghancurkan reputasi Enrique Pena Nieto, presiden Meksiko sebelum Lopez Abrador.

Lopez Abrador yang naik ke tampuk kekuasaan pada Desember lalu berusaha menghentikan semua kebijakan pemerintah sebelumnya. Ia mengatakan tidak akan mendukung kebijakan 'mata dibalas mata'.

Angka pembunuhan di Meksiko masih tetap tinggi dan mencapai rekor sejak Lopez Obrador berkuasa. Acara yang digelar Lopez Obrador ini bertujuan untuk meningkatkan koordinasi antara pihak berwenang, keluarga, dan pusat layanan darurat di bawah 'sistem pencari nasional' yang dirancang untuk melacak orang-orang hilang.

Lopez Obrador mengatakan pemerintah tidak akan meminta biaya apa pun untuk pencari orang hilang. Sudah ada 26 ribu nama yang dimasukkan ke dalam sistem tersebut.

Dalam acara yang dihadiri keluarga dan kerabat orang-orang yang dihilangkan paksa, Lopez Obrador menyerang kebijakan ekonomi pemerintah sebelumnya. Ia mengatakan pemerintah sebelumnya korup, memandekkan Meksiko, dan mendorong kekerasan.

"Ini yang membuat kami menderita, buah busuk ekonomi neo-liberal yang diresepkan selama 36 tahun," katanya.

Sumber : Reuters
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA