Friday, 14 Sya'ban 1440 / 19 April 2019

Friday, 14 Sya'ban 1440 / 19 April 2019

Pejabat AS Sebut Tur ke Xinjiang Menyesatkan

Ahad 24 Mar 2019 11:15 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Nidia Zuraya

Para peserta didik kamp pendidikan vokasi etnis Uighur di Kota Kashgar, Daerah Otonomi Xinjiang, Cina, berolahraga di lapangan voli pelataran asrama, Jumat (3/1/2019).

Para peserta didik kamp pendidikan vokasi etnis Uighur di Kota Kashgar, Daerah Otonomi Xinjiang, Cina, berolahraga di lapangan voli pelataran asrama, Jumat (3/1/2019).

Foto: ANTARA FOTO/M. Irfan Ilmie
Cina akan mengundang para diplomat Eropa di Beijing untuk berkunjung ke Xinjiang

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Seorang pejabat Amerika Serikat (AS) menyebutkan, tur ke Xinjiang yang diselenggarakan oleh pemerintah Cina menyesatkan, dan menyebarkan narasi palsu tentang kawasan yang bermasalah. Sebelumnya Kementerian Luar Negeri Cina mengumumkan rencana untuk mengundang utusan Eropa.

Baca Juga

Seorang pejabat pemerintah AS, ditanya oleh Reuters apakah duta besar AS untuk Cina, Terry Branstad, telah diundang untuk mengunjungi Xinjiang. Ia mengatakan tidak ada pertemuan atau kunjungan yang akan diumumkan.

"Tur-tur yang dipimpin oleh pemerintah yang sangat terkoordinasi dan didampingi di Xinjiang telah menyebarkan narasi palsu dan mengaburkan realitas pelanggaran HAM Cina yang sedang berlangsung di wilayah tersebut," kata pejabat itu, yang berbicara dengan syarat anonim.

Cina telah meningkatkan upaya dalam melawan kritik yang berkembang di Barat, dan di antara kelompok-kelompok hak asasi manusia. Ini terkait dengan program radikalisasi kontroversial di Xinjiang, yang mayoritas muslim.

Para kritikus menyatakan, Cina mengoperasikan kamp-kamp interniran untuk warga Uighur, dan Muslim lainnya yang tinggal di Xinjiang. Sementara pemerintah menyebutnya sebagai pusat pelatihan kejuruan.

Kementerian luar negeri Cina mengatakan akhir pekan lalu, mereka akan mengundang para diplomat Eropa yang berbasis di Beijing untuk segera berkunjung. Sumber-sumber diplomatik menyatakan sejauh ini undangan tidak resmi telah ditujukan secara khusus kepada para duta besar, dan direncanakan untuk pekan ini.

Kunjungan bulan ini akan menjadi yang pertama oleh sekelompok besar diplomat Barat ke wilayah itu, sejak kekhawatiran keamanan Xinjiang mulai meningkat tahun lalu. Ratusan orang tewas dalam kerusuhan di Xinjiang dalam beberapa tahun terakhir.

Beberapa kelompok diplomat dari negara lain telah dibawa ke Xinjiang. Ada dua kunjungan kelompok-kelompok termasuk diplomat Eropa ke Xinjiang tahun ini.

Salah satunya yakni sekelompok kecil diplomat UE. Dan lainnya sekelompok diplomat dari campuran negara-negara yang lebih luas, termasuk misi dari Yunani, Hongaria dan negara-negara Afrika Utara, dan Asia Tenggara.

Seorang wartawan Reuters berkunjung pada perjalanan yang diorganisir pemerintah pada Januari. Pejabat AS menggambarkan apa yang terjadi di Xinjiang sebagai kampanye yang sangat represif, dan fasilitas yang disebut sebagai pusat pelatihan kerja yang manusiawi, adalah tidak dapat dipercaya.

"Kami akan terus menyerukan Cina untuk mengakhiri kebijakan kontraproduktif ini, membebaskan semua orang yang telah ditahan secara sewenang-wenang, dan menghentikan upaya untuk memaksa anggota kelompok minoritas Muslimnya yang berada di luar negeri untuk kembali ke Cina untuk menghadapi nasib yang tidak pasti," sebut pejabat AS.

Kementerian Luar Negeri Cina tidak segera menanggapi permintaan komentar. Cina telah menolak semua kritik asing terhadap kebijakannya di Xinjiang, dan mengatakan mereka mengundang orang untuk berkunjung dalam membantu mereka lebih memahami wilayah itu.

Awal bulan ini, Departemen Luar Negeri AS menyatakan, perlakuan Cina terhadap Muslim di Xinjiang menandai pelanggaran hak asasi manusia terburuk sejak 1930-an.

Masalah Xinjiang menambah ketegangan pada hubungan antara Washingto,n dan Beijing. Keduanya kini tengah berusaha untuk mengakhiri perang perdagangan. Selain itu juga memiliki beberapa ketidaksepakatan lain, termasuk Laut Cina Selatan yang disengketakan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA