Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Boeing Akui Ada Eror di Sistem Peringatan Kokpit 737 MAX

Senin 17 Jun 2019 12:29 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Ani Nursalikah

Pekerja merakit Boeing 737 MAX 8 di fasilitas perakitan pesawat di Washington, Amerika Serikat.

Pekerja merakit Boeing 737 MAX 8 di fasilitas perakitan pesawat di Washington, Amerika Serikat.

Foto: AP Photo/Ted S. Warren
Direktur Boeing optimistis 737 MAX akan diizinkan terbang pada akhir tahun ini.

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Direktur Boeing Dennis Muilenburg mengatakan, perusahannya telah membuat kesalahan dalam menangani sistem peringatan kokpit dalam 737 MAX yang menyebabkan dua kecelakaan fatal di Ethiopia dan Indonesia. Berbicara di hadapan industri penerbangan dalam Paris Air Show, Muilenberg berjanji melakukan transparansi ketika telah memperbaiki sistem tersebut.

"Kami memiliki kesalahan dalam mengimplementasi peringatan," ujar Muilenburg, Senin (17/6).

Muilenburg optimistis, Boeing 737 MAX akan diizinkan terbang lagi pada akhir tahun ini oleh regulator Amerika Serikat (AS) dan regulator global. Boeing 737 MAX tidak diizinkan untuk terbang selama tiga bulan di seluruh dunia. Hal ini menyusul terjadinya dua kecelakaan fatal yang menimpat Ethiopian Airlines dan Lion Air dalam jangka waktu yang berdekatan.

Boeing berupaya memperbaiki kesalahan sistem tersebut dan memastikan bahwa pesawat buatannya aman. Perbaikan kesalahan sistem ini perlu persetujuan regulator.

Baca Juga

Muilenburg menyebut kecelakaan Lion Air dan Ethiopian Airlines merupakan momen yang memberikan 'tendangan' kepada Boeing. Muilenburg mengatakan, peristiwa tersebut justru akan membuat Boeing tumbuh menjadi perusahaan yang lebih baik dan lebih kuat.

"Kami akan mengambil waktu yang diperlukan untuk memastikan MAX aman," kata Muilenburg.

Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA) menyalahkan Boeing karena tidak memberikan informasi kepada regulator indikator keselamatan di kokpit 737 MAX tidak berfungsi dengan baik. Padahal Boeing 737 MAX merupakan pesawat terlaris dan banyak dipesan oleh maskapai penerbangan dunia.

Di AS, Boeing menghadapi pengawasan ketat dari Kongres dan FAA tentang masalah sistem peringatan di kokpit pesawat. Fitur yang disebut sebagai angle of attack (AoA) memberikan peringatan kepada pilot ketika terjadi kesalahan.

Boeing mengakui, dalam beberapa bulan setelah peluncuran 737 MAX pada 2017, para insinyur Boeing menyadari bahwa lampu peringatan sensor hanya bekerja ketika dipasangkan dengan fitur opsional yang terpisah. Namun, mereka tidak melaporkan masalah tersebut selama lebih dari setahun hingga terjadi kecelakaan fatal yang menimpa Lion Air di Indonesia.

Sensor pengukur sudut menjadi salah satu penyebab kecelakaan Lion Air pada Oktober 2018, dan Ethiopian Airlines pada Maret 2019. Sensor yang tidak berfungsi tersebut memperingatkan perangkat lunak anti-stall untuk mendorong hidung pesawat ke bawah.

Hal ini membuat pilot tidak dapat mengambul kendali pesawat. Boeing memberikan informasi kepada FAA bahwa ada kesalahan sensor dalam kokpit pesawat setelah kecelakaan Lion Air di Indonesia.

Juru bicara serikat pilot, Dennis Tajer mengatakan, sebaiknya Boeing bersedia meninjau kembali masalah peringatan dalam kokpit pesawat. Boeing juga harus mengakui telah membuat kesalahan dengan tidak menyampaikan informasi tersebut kepada regulator.

"Boeing membuat serangkaian kesalahan langkah komunikasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang telah menciptakan headwind besar untuk membangun kembali kepercayaan," ujar Tajer.

MAX merupakan versi terbaru dari penjualan Boeing 737 yang sangat laris dan memegang peranan penting bagi masa depan perusahaan. Boeing membuat MAX sebagai langkah untuk menghadapi pesaingnya yakni Airbus A320neo yang hemat bahan bakar. Selain itu, A320neo merupakan salah satu jet paling populer di Eropa dan telah melampaui penjualan Boeing.

Boeing menaikkan target penjualan pesawat jangka panjang untuk memenuhi permintaan global, terutama di tengah pertumbuhan maskapai di Asia. Boeing menargetkan, maskapai dunia membutuhkan 44 ribu pesawat dalam jangka waktu 20 tahun. Target ini naik dari perkiraan sebelumnya yakni 43 ribu pesawat.

Muilenburg memproyeksikan, dalam 10 tahun pasar penerbangan secara keseluruhan termasuk jet penumpang, pesawat kargo dan pesawat tempur akan bernilai 8,7 triliun dolar AS dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya sebesar 8,1 triliun dolar AS.

Persoalan yang menimpa Boeing menjadi kesempatan bagi Airbus untuk menjual lebih banyak pesawat, dan meluncurkan pesawat jet jarak jauh A321 XLR di Paris Air Show. Pejabat eksekutif Airbus menyatakan, kecelakaan yang menimpa Boeing 737 MAX tidak mempengaruhi strategi penjualan mereka.

sumber : AP
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA