Rabu 14 Oct 2015 18:51 WIB

Suara-Suara dari Lepas Pantai Mediterania

Rep: c38/ Red: Ani Nursalikah
Pengungsi dari Mali, Amaye Yattassaye (61 tahun).
Foto: Karlos Zurutuza/Al Jazeera
Pengungsi dari Mali, Amaye Yattassaye (61 tahun).

REPUBLIKA.CO.ID, MEDITERANIA -- Puluhan ribu imigran mengungsi tahun ini akibat konflik panjang yang mendera Timur Tengah dan sebagian negara Afrika. Memimpikan daratan Eropa, tak sedikit imigran yang harus mempertaruhkan nyawa di tengah perairan Mediterania.

"Kami lama terombang-ambing di tengah laut, tapi saya bersyukur kepada Tuhan atas anugerah dan rahmat-Nya yang telah mengirimkan perahu ini untuk menyelamatkan kami," ucap Amaye Yattassaye (61 tahun), dilansir dari Al Jazeera, Rabu (14/10).

Lelaki asal Mali ini diselamatkan oleh tim kemanusiaan Doctors Without Borders (MSF, akronim Perancis) beberapa waktu lalu. Tiga kapal MSF -Dignity I, Argos, dan Migrant Offshore Aid Station's Phoneix- telah dilepas ke tengah perairan Mediterania sejak Juni lalu. Proyek ambisius itu sekurangnya berhasil menyelamatkan 18 ribu imigran. Mayoritas berasal dari Sub-Sahara Afrika.

Yattassaye datang ke Eropa untuk mencari pengharapan baru. Lelaki itu telah kehilangan kaki kiri dalam sebuah kecelakaan 1997.

Tidak mudah baginya bertahan hidup di Mali. Ketika situasi memburuk, ia pun memutuskan mencoba mencapai daratan Eropa. Uang 300 dolar AS yang dibutuhkan untuk naik perahu berhasil didapat dari orang-orang di masjid Libya, tempatnya singgah selama dua bulan.

Sempat terombang-ambing tak menentu, Yattassaye tampak sumringah bertemu dengan tim MSF. Bersama serombongan imigran, ia mengaku senang akan dibawa ke Italia.

"Saya yakini dengan hati, orang-orang Italia adalah orang yang paling ramah di Eropa," ujarnya.

Lain Yattassaye, lain pula kisah Irene (22), perempuan asal Nigeria. Di negara asal, perempuan ini adalah calon perawat. Studinya tidak selesai lantaran sang suami mengajaknya mengejar kehidupan yang lebih baik di Eropa.

Malang, sampai di Tripoli, semua uang mereka dicuri oleh anggota milisi. Ada banyak imigran lain mengalami nasib serupa.

"Mereka bilang aku bisa hidup kalau mau menjadi pelacur, tapi aku menolak. Banyak, bahkan hampir sebagian besar perempuan Afrika di Libya telah diperkosa di pusat-pusat penahanan," ujarnya, yang berhasil naik kapal setelah membayar 500 dolar AS.

Irene kini berjuang sendirian. Atas beberapa alasan, suaminya tidak dapat melanjutkan perjalanan. Ia mengaku lelah.

"Aku hamil delapan bulan sekarang dan aku pikir, aku akan mati di atas perahu itu. Namun, situasi di Libya begitu tak tertahankan. Aku lebih suka mati di laut daripada kembali ke sana," katanya.

Konflik Timur Tengah telah menciptakan migrasi terbesar sejak Perang Dunia II. International Organization for Migration mencatat, hingga September lebih dari 522 ribu orang berbondong-bondong membanjiri daratan Eropa. Jumlah ini hampir dua kali lipat dibanding gelombang migrasi 2014.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement