REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO - Unjuk rasa besar warga provinsi Qena yang menolak gubernur baru berdampak ke berbagai bidang. Aksi massa ini juga menimbulkan sejumlah kisah pedih kemanusiaan.
Sebagaimana dilaporkan surat kabar Al-Ahram, Selasa (19/), kerugian yang diderita pemerintah akibat demo Qena cukup besar, terutama karena lumpuhnya transportasi kereta api antara Kairo-Qena. Sebagian besar penumpang akhirnya tertidur di stasiun. Angka terbaru menunjukkan pemerintah merugi hingga 3 juta pound Mesir akibat penundaan keberangkatan sekitar 90 perjalanan kereta api dalam tiga hari terakhir, dan menelantarkan 200 ribu penumpang.
Mohamed Kamal, Wakil Kepala Otoritas Kereta Api, mengatakan situasi yang terjadi cukup mengkhawatirkan. “Bahkan beberapa kereta yang berhenti di stasiun Luxor dan Aswan, tidak dapat kembali ke Kairo,” ujarnya.
Tentu saja kondisi ini merugikan masyarakat, bahkan menciptakan tragedi kemanusiaan. Seperti yang dialami Abdel Mugod dan tiga saudara perempuannya. Mereka hendak menghadiri pemakaman ayahnya, namun karena tak ada kereta yang berangkat, mereka pun terdampar di stasiun.
Penumpang lain menuturkan, ia telah mengantarkan ayahnya ke Kairo untuk operasi jantung, dan akan kembali pulang. Namun tak menemukan satu pun kereta yang berangkat ke Qena. Ia tak berani mengambil resiko membawa orang tuanya naik bus atau angkutan umum karena beresiko terhadap ayahnya yang baru saja dioperasi.
Koran Al-Ahram melaporkan, Menteri Pembangunan Daerah Muhsin Al-Numani dan Mayor Jenderal Mansour al-Issawi Menteri Dalam Negeri telah tiba di Qana untuk menyelesaikan krisis. Namun tidak untuk mengganti gubernur Qena yang baru.