REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Lebih dari 20 ribu pasien thalesemia di Iran dilaporkan kekurangan obat. Antrean panjang terjadi di toko-toko obat.
Pada Selasa (9/10), Surat Kabar Tehran Emrooz melaporkan selama beberapa bulan terakhir, pasien thalesemia mengkonsumsi obat dengan jumlah kurang. Seorang apoteker Iran, Mohammad Hossein Hariri mengatakan kenaikan obat terjadi selama tiga bulan terakhir.
Obat produksi dalam negeri mengalami kenaikan harga 15 sampai 20 persen dari harga biasa. Obat luar negeri pun meningkat terutama beberapa suplement makanan yang dijual di pasaran dengan kenaikan harga 20 hingga 80 persen. (baca: Sanksi Barat Ancam Jutaan Nyawa Warga Iran).
"Jika pejabat terkait tidak memperhatikan produksi dan impor obat ini, negara dalam waktu dekat akan dilanda krisis," ujarnya seperti dinukil the Guardian.
Uni Eropa dan AS telah memberikan sanksi keras terhadap sistem keuangan Iran di sektor minyak dan perbankan. Meski sektor makanan dan obat terbebas dari sanksi, namun importir barang kebutuhan tersebut sulit dilakukan sebagai dampak sanksi perbankan.
Bank Central Iran menjadi target utama dalam sanksi. Padahal, bank tersebut merupakan satu-satunya perbankan resmi yang melayani transfer uang ke luar negeri.
Masyarakat Iran, termasuk para pelajar biasa membayar layanan luar negeri melalui bank tersebut. Reuters mengabarkan sistem pembayaran dan perbankan Iran kacau balau pascasanksi tersebut.