REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Pengawal Revolusi Iran pada Selasa (4/12) mengaku telah "menahan" satu pesawat kecil tanpa awak milik Amerika Serikat yang sedang kasak-kusuk di perairan Teluk. Pesawat itu diduga sengaja memasuki wilayah udara Iran untuk mengumpulkan informasi intelijen.
"Pesawat tanpa awak itu mematroli perairan Teluk Persia untuk melakukan pengintaian dan mengumpulkan informasi intelijen, ditahan segera setelah memasuki wilayah udara Iran," demikian pernyataan Angkatan Laut Pengawal Revolusi di laman resminya, Sephahnews.com.
Tidak dijelaskan secara pasti kapan, di mana atau bagaimana pesawat itu ditahan. Namun angkatan Laut Pengawal Revolusi mengatakan pesawat itu adalah ScanEagle buatan Boeing.
ScanEagle adalah pesawat pengintai jarak dekat dengan panjang sayap pesawat tiga meter yang biasanya diluncurkan dari kapal-kapal dan dapat terbang sejauh 100 km.
Kementerian luar negeri Iran pekan lalu menyatakan pesawat AS telah wara-wiri di wilayah udara Iran sebanyak delapan kali dalam Oktober. Iran pun mengeluarkan ancaman. Jika pelanggaran wilayah udara itu terus terjadi mereka akan mengeluarkan "reaksi serius".
Pada 1 November, pesawat-pesawat tempur Iran menembaki satu pesawat tanpa awak AS di Teluk tetapi gagal menjatuhkannya, kata Deplu AS.
Klaim penahanan pesawat terbaru ini disebut sebut kembali memanaskan ketegangan militer antara dua musuh bebuyutan di Teluk itu.
Iran menjadi sasaran pengintaian AS karena menyangkut program-program nuklirnya. Iran mengatakan pesawat ScanEagle itu sedang dalam misi pengintaian dekat Bushehr, yang menjadi tempat fasilitas tenaga nuklirnya, serta terminal minyak utama di pulau Kharg.