Selasa 19 Aug 2014 14:03 WIB

Pesawat Misterius Terbang di Tripoli

Libya
Foto: [ist]
Libya

REPUBLIKA.CO.ID, TRIPOLI -- Dua pesawat tidak dikenal terbang di wilayah ibu kota Libya, Tripoli sebelum Senin pagi sementara ledakan-ledakan kuat terdengar, beberapa hari setelah bentrokan-bentrokan baru antara milisi-milisi yang memicu ratusan orang melarikan diri.

Satu pernyataan dari pemerintah sementara, yang kurang memiliki kekuasaan yang riil, mengatakan pihaknya tidak tahu apakah pesawat itu telah menyerang pangkalan-pangkalan milisi.

Akan tetapi, seorang staf jenderal pembangkang Khalifa Harfar,yang melancarkan serangan terhadap kelompok milisi Islam di kota terbesar kedua Benghazi, mengatakan pesawat itu dikirim oleh dia.

Saqr Jarouchi, juga seorang jenderal pembangkang kemudian mengemukakan kepada AFP: "Itu adalah pesawat-pesawat kami yang melancarkan serangan-serangan."

Tetapi unit angkatan udara yang menolak bergabung dengan serangan Haftar di kota Benghazi, Libya timur itu membantah klaim itu dan mengatakan pesawat itu milik "asing bukan Libya".

Kelompok itu dalam satu pernyataan mengatakan pesawat Libya tidak dilengkapi untuk dapat terbang pada malam hari dan tidak dapat mengisi bahan bakar di udara, terutama jika mereka lepas landas dari pangkalan-pangkalan udara terpencil yang dikuasai pasukan Haftar.

Pesawat itu pertama terbang sekitar pukul 02.00 waktu setempat (O7.00 WIB)dan seorang penduduk mengemukakan kepada AFP ia mendengar satu ledakan kuat yang disusul dengan ledakan-ledakan lainnya.

"Ledakan-ledakan itu terdengar dengan jelas di distrik-distrik timur Tripoli, 15 kilometer dari pusat kota itu," katanya.

Stasiun televisi Libya Awalan (Libya First), yang dekat dengan Haftar, mengatakan: "Pesawat-pesawat militer membom berbagai posisi" dekat Tripoli.Televisi itu tidak memberi rincian lebih jauh.

Staf Haftar mengatakan serangan-serangan itu ditujukan pada milisi Misrata yang memiliki hubungan dengan Islam yang berperang melawan para petempur nasionalis dari Zintan untuk menguasai bandara internasional Tripoli.

Bandara yang ditutup sejak 13 Juli, berada dalam kekuasaan milisi dari Zintan, barat daya Tripoli.

Mereka menangkis tantangan dari para petempur Misrata, timur ibu kota itu, untuk menguasai satu jembatan yang memberikan akses ke bandara itu.

Haftar Mei melancarkan satu serangan "Operasi Martabat" terhadap kelompok-kelompok garis keras Islam yang menguasai Benghazi sejak jatuhnya orang kuat Muammar Gaddafi tahun 2011.

Pernyataan pemerintah Senin itu mengatakan satu penyelidikan sedangan dilakukan menyangkut pesawat-pesawat yang misterius itu.

"Kelompok-kelompok ini harus menghentikan pertempuran, setuju berunding dan mundur dari Tripoli dan kota Libya lainnya," kata pernyataan itu dan menambahkan pemerintah sedang melakukan kontak dengan negara-negara "sahabat" dalam usaha mengidentifikasi pesawat itu.

Amerika Serikat membantah rumor-rumor media sosal mengenai keterlibatannya.

"Amerika Serikat tidak terlibat dalam kejadian-kejadian ini," kata wakil juru bicara Departemen Luar Negeri Marie Harf.

"Kami terus mencari informasi lagi dan tidak dapat mengonfirmasikan rincian saat ini tentang siapa yang melancarkan serangan udara ini," tambahnya.

Prancis juga membantah rumor-rumor keterlibatan Prancis dalam serangan-serangan udara ini," tambahnya.

"Rumor-rumor serangan udara di Libya di mana Prancis terlibat adalah tidak benar," kata juru bicara kementerian luar negeri di Paris.

"Prioritas Prancis adalah perjanjian politik yang akan mengakhiri perang di Tripoli, Benghazi dan tempattempat lain Libya."

Bentokan-bentrokan baru antara milisi-milisi yang bermusuhan terjadi di Tripoli, Jumat dan Sabtu dengan rudal-rudal Grad dan artileri digunakan tetapi tidak ada segera laporan mngenai korban.

Kantor berita pemerintah Lana melaporkan sekitar 1.000 keluarga mengungsi akibat pertempuran itu.

Bentrokan senjata berhenti Ahad ketika brigade Misrata mengklaim telah menguasai satu jembatan dan satu pangkalan militer, kendatipun klaim itu tidak mungkin dikonfirmasikan secara independen.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement