Kamis 30 Apr 2015 11:36 WIB

Jenazah Chan dan Sukumaran Tiba di Australia Akhir Pekan

Red:
 Anggota keluarga Sukumaran, Chintu dan Brintha usai menyampaikan perpisahan dengan Myuran Sukumaran.
Foto: AAP
Anggota keluarga Sukumaran, Chintu dan Brintha usai menyampaikan perpisahan dengan Myuran Sukumaran.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jenazah terpidana mati duo Bali Nine Andrew Chan dan Myuran Sukumaran hingga kini masih disemayamkan di Jakarta dan diperkirakan akan tiba di Sydney akhir pekan ini.

Menurut informasi yang diperoleh ABC, kedua mayat tersebut diperkirakan akan diterbangkan ke Australia di akhir pekan. Namun sejauh ini belum ada kepastian waktu baik dari pihak keluarga maupun dari pemerintah Australia dan Indonesia.

Sementara itu Pendeta Rob Buckingham, yang istrinya Christie Buckingham menjadi rohaniwati untuk Sukumaran di saat-saat terakhir, kepada ABC mengungkapkan duo Bali Nine terus berdoa menjelang pelaksanaan eksekusi.

Baik Christie Buckingham maupun Major David Soper yang merupakan rohaniwan untuk Andrew Chan, tidak melihat langsung pelaksanaan eksekusi tersebut. "Namun keduanya berada di sekitar lokasi," ungkap Rob Buckingham.

"Christie melewati malam terakhir bersama Sukumaran sampai saat terakhir dia dibawa bersama yang lainnya untuk dieksekusi,' kata Pendeta Rob Buckingham baru-baru ini.

Pendeta Buckingham yang mendapat informasi dari istrinya mengatakan bahwa Sukumaran dengan tegas menolak untuk mengenakan penutup mata. "Saya ingin menatap mata penembak saya," demikian dikatakan Sukumaran seperti dikutip  Rob Buckingham.

Dalam perkembangan lainnya Menteri Komunikasi Malcolm Turnbull menyatakan langkah pemerintah Australia sudah tepat untuk menolak hak negara menentukan hidup mati seseorang.

"Kami meminta Presiden Indonesia untuk menunjukkan kekuatan dengan cara memberi pengampunan kepada terpidana mati dan kami harus menelan pil pahit kekecewaan, kita semua," katanya.

Sementara Menteri Pertahanan Kevin Andrews mengatakan jika situasinya adalah seorang presiden yang berada dalam plosisi lemah, maka seseorang dalam posisi demikian seringkali mengambil keputusan yang dimaksudkannya untuk menunjukkan kekuatan.

"Jika benar situasinya demikian, maka saya katakan bahwa Presiden Indonesia telah salah perhitungan," kata Menteri Andrews.

"Masyarakat Australia bersahabat dengan masyarakat Indonesia. Namun dalam kasus ini saya yakin pemimpin mereka telah merugikan masyarakatnya sendiri," tambahnya.

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ABC News (Australian Broadcasting Corporation). Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ABC News (Australian Broadcasting Corporation).
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement