Ahad 28 Jun 2015 17:13 WIB

Ledakan Bubuk Lukai Ratusan Orang di Taiwan

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Winda Destiana Putri
Ledakan bom, ilustrasi
Ledakan bom, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, TAIWAN -- Sebuah insiden ledakan di Taman Air Formosa di New Taipei City melukai 512 orang, Ahad (28/6). Ledakan terjadi ketika bubuk berwarna menyala saat dilemparkan dari panggung pada ribuan pengunjung.

Delapan orang di antara para korban luka berada dalam kondisi kritis. Gambar-gambar di lokasi kejadian menunjukkan pekerja penyelamat menangani korban luka dalam perahu karet.

Insiden terjadi saat acara pesta Colour Play Asia. Pengunjuk tampak menari-nari dan dilempari bubuk berwarna dari panggung. Namun, skenario tidak berjalan mulus. Kerumunan yang hanya menggunakan pakaian renang itu harus merasakan ledakan.

Saksi mata mengatakan keadaan saat insiden seperti neraka. "Darah ada di mana-mana, termasuk di kolam renang," kata salah satu korban pada AFP. "Saya melihat banyak orang yang kehilangan kulitnya," kata saksi lainnya.

Ayah salah satu korban mengatakan anak perempuannya menderita luka bakar hingga 80 persen tubuhnya. Sementara polisi telah menangkap dua orang untuk keperluan investigasi.

Penyebab pasti insiden masih dalam penyelidikan. Pejabat pemerintah setempat, Lin Chieh-yu, mengatakan api diduga berasal dari ledakan bubuk.

"Ini masih dalam penyelidikan apa yang membuat bubuk meledak," katanya. Pascainsiden, Perdana Menteri Mao Chih-kuo juga mengumumkan larangan acara atau pesta yang menggunakan bubuk berwarna.

"Beberapa hari ke depan akan menjadi waktu yang kritis untuk korban luka," kata Mao.

Ia menambahkan, sebanyak 410 orang masih berada di rumah sakit dengan 194 di antaranya dirawat karena luka serius. Sementara itu, taman hiburan ditutup untuk sementara.

Departemen Kesehatan mengatakan sebagian besar korban menderita luka bakar hingga 50 persen. Mereka juga menghirup banyak debu karbon hitam. Korban luka parah dikirim ke beberapa rumah sakit.

"Alasan mengapa luka bakar jadi parah adalah karena ini mengenai kulit dan organ pernafasan karena mereka menghirupnya juga," kata Wakil ketua biro kesehatan, Lee Lih-jong. Menurut dia, kondisi mereka kritis hingga 24 jam ke depan. Menurut Xinhua, ini adalah insiden terparah yang menimpa penduduk secara massal.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement