Rabu 13 Jan 2016 07:53 WIB

Hadapi Ancaman Barat, Rusia Bentuk Tiga Divisi Baru

Rep: Reza Irfa Widodo/ Red: Teguh Firmansyah
Pasukan Rusia
Foto: EPA/Sergei Chirikov
Pasukan Rusia

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Menteri Pertahanan Militer Rusia, Sergey Shoigu, mengungkapkan, dalam membendung upaya ekspansi yang dilakukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), termasuk Amerika Serikat, di Eropa Tengah dan Timur, Rusia berencana menambah satu divisi di Angkatan Darat Rusia. Tidak tanggung-tanggung, rencananya, Rusia bakal membangun tiga divisi baru pada tahun ini.

''Saya tidak bisa sebutkan detailnya saat ini, terkait pembentukan divisi baru di front barat. Tapi tugas ini akan sangat penting,'' ujar Shoigu kepada TASS, seperti dikutip RT, Rabu (13/1).

Dalam pembangunan divisi baru ini, lanjut Shoigu, pihaknya akan membangun sejumlah instalasi militer baru, termasuk infrastruktur untuk markas, barak prajurit, tempat latihan tembak, dan gudang perbekalan serta senjata.

Pernyataan Shoigu ini dianggap sebagai bentuk reaksi Rusia atas pernyataan sikap NATO dan Amerika Serikat terkait pembangunan kekuatan militer di Eropa Tengah dan Timur. Pembangunan kekuatan militer ini dilakukan lantaran adanya upaya 'agresi' yang dilakukan Rusia di wilayah-wilayah tersebut.

Sebelumnya, pada akhir 2015 silam, dalam majalah propaganda militer Rusia, beredar salinan dokumen berjudul 'strategi keamanan nasional', yang ditandatangani langsung oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin. Dalam dokumen tersebut dijelaskan, langkah Amerika Serikat dan NATO membangun kekuatan militer di Eropa Tengah dan Timur merupakan sebuah ancaman nyata bagi keamanan nasional Rusia. Langkah NATO dan sekutunya itu pun harus disikapi sesegera mungkin.

Eskalasi hubungan antara NATO dengan Rusia memang sempat memanas, terutama terkait kondisi konflik di Ukraina, tahun lalu. Pada saat itu, sejumlah pemberontak mencoba melakukan merebut kekuasaan dari pemerintah. Konflik penuh dengan kekerasan pun tidak bisa terhindarkan. Pemerintah Ukraina terguling dan digantikan pemerintahan baru, yang cenderung dekat dengan NATO. Pemerintahan baru ini pun akhirnya mengungkapkan keinginan untuk bergabung dengan NATO guna melindungi diri dari Rusia.

Dalam setahun terakhir, NATO memang telah melakukan sejumlah operasi militer dan peningkatan jumlah pasukan, terutama di sekitar perbatasan Rusia. Pada November 2015 silam, NATO melancarkan operasi latihan militer gabungan bertajuk 'Trident Juncture 2015'. Latihan tersebut diikuti sekitar 36 ribu pasukan, 60 kapal perang, dan sekitar 200 pesawat dari seluruh anggota NATO.

Selain seluruh negara anggota NATO, latihan militer itu juga diikuti tujuh negara mitra NATO, yaitu Australia, Austria, Bosnia-Herzegovina, Finlandia, Macedonia, Swedia, dan Ukraina. Jika menilik jumlah personil dan kekuatan yang diturunkan, latihan militer tersebut menjadi latihan militer terbesar NATO sejak 2002 silam.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement