Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Politikus Jerman Khawatir dengan Pengaruh Erdogan

Senin 08 Aug 2016 06:31 WIB

Rep: Ahmad Islamy Jamil/ Red: Teguh Firmansyah

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menetapkan status darurat selama tiga bulan, Rabu (20/7), menyusul kudeta gagal pekan lalu.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menetapkan status darurat selama tiga bulan, Rabu (20/7), menyusul kudeta gagal pekan lalu.

Foto: Kayhan Ozer/Pool Photo via AP

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN — Para politisi Jerman pada Ahad (7/8) menyuarakan keprihatinan mereka atas pengaruh politik di Ankara terhadap orang-orang keturunan Turki yang tinggal di Jerman.

“Orang-orang asal Turki yang tinggal di Jerman harus mematuhi undang-undang dan kebiasaan yang berlaku di negara ini,” kata politikus Volker Kauder, kepada media setempat, kemarin, seperti dilansir Al Arabiya.

Ribuan demonstran dari komunitas Turki Jerman keluar ke jalan-jalan di Kota Koln pada akhir Juli lalu untuk menunjukkan dukungan mereka kepada Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Aksi unjuk rasa tersebut sempat memicu ketegangan diplomatik antara Ankara dan Berlin.

“Saya melihat ada upaya-upaya yang dilakukan pemerintah Turki dan partai yang berkuasa di negeri itu untuk memengaruhi masyarakat keturunan Turki yang tinggal di Jerman,” ucap Kauder.

Pemimpin partai kiri radikal Jerman, Bernd Riexinger, juga memperingatkan tentang peningkatan ketegangan di kalangan penduduk Turki di Jerman. “Para pendukung Erdogan sudah mengerahkan banyak tekanan politik di Jerman. Ini harus dihentikan. Tidak boleh ada ancaman apa pun di antara kita,” ungkap Riexinger.

Baca juga, Anda Adalah Hadiah dari Tuhan Erdogan.

Negeri Jerman menjadi rumah bagi sekitar tiga juta orang keturunan Turki. Pada pemilihan umum terakhir di Turki, 60 persen kaum imigran itu cenderung memilih AKP, partai yang dipimpin Erdogan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA