REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Presiden AS terpilih Donald Trump kemungkinan menghapus sanksi terbaru AS untuk Rusia tahun depan, Kamis (29/12). Seorang pejabat anonim Gedung Putih mengatakan Trump bisa melakukannya setelah resmi menjabat 20 Januari mendatang.
"Jadi, lagi-lagi, secara hipotesis, Anda bisa membalikkan sanksi tersebut," kata pejabat itu dikutip kantor berita Rusia, TASS.
Jika demikian, hal ini akan terasa seperti lelucon. Kebijakan luar negeri AS di masa depan diputuskan oleh pemerintah terpilih.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov mengatakan sanksi AS karena tuduhan serangan siber Rusia itu berniat menghancurkan hubungan AS-Rusia, termasuk menghancurkan kebijakan luar negeri pemerintahan selanjutnya.
Baca: Putin Siapkan Pembalasan Atas Pengusiran Diplomatnya
"Semoga kepemimpinan baru AS bisa memperbaiki 'tindakan janggal' pendahulunya," kata Peskov.
Asisten utama Trump, Kellyanne Conway juga menyampaikan argumen yang mirip. Perempuan yang mengatur kampanye Trump dulu itu mengatakan Presiden Obama seperti ingin 'mengandangi' Trump. "Itu akan sangat tidak menguntungkan jika politik adalah motifnya," kata Conway.
Menurutnya, itu bukan tindakan berdamai yang benar dalam demokrasi. Rusia berulang kali menyangkal keterlibatan dalam serangan siber di AS, termasuk pada sistem Partai Demokrat dan sistem pemilu AS.
Pada Kamis, pemerintah Obama menerapkan saksi pada pejabat keamanan dan intelijen militer Rusia. Sebanyak 35 diplomat Rusia dipulangkan.