Sabtu 31 Dec 2016 17:20 WIB

Beasiswa untuk Mahasiswa Miskin Berprestasi Asal Gaza

Mahasiswa Baru Universitas Birzet, Palestina
Foto: birzeit.edu
Mahasiswa Baru Universitas Birzet, Palestina

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA CITY -- Setiap tahun, tidak kurang dari 20 ribu mahasiswa menempuh pendidikan Strata 1 di seluruh perguruan tinggi yang tersebar di Gaza. Salah satunya adalah Universitas Islam Gaza (UIG). Tidak saja menjadi universitas terbesar di Palestina, bahkan UIG menduduki peringkat ke- 4 sebagai universitas yang sangat berkualitas di Jazirah Arab.

Setiap tahunnya, Univeristas Islam Gaza (UIG) meluluskan 5.000 sarjana dari berbagai fakultas termasuk kedokteran. Mahasiswa UIG terdiri atas 16 ribu orang mahasiswi dan 13 ribu orang mahasiswa dengan gedung perkuliahan yang terpisah antara pria dan wanita.

Prestasi yang diraih oleh para mahasiswa menunjukkan tingginya semangat mereka dalam menuntut ilmu. Sayangnya, sebagian besar mahasiswa berasal dari keluarga yang tidak mampu. Orang tua mereka hidup dalam keterhimpitan ekonomi, bahkan tidak berpenghasilan sama sekali. Tidak sedikit dari mereka yang lulus dengan nilai IPK yang luar biasa (excellent).

Namun sayangnya, mayoritas dari mereka terpaksa mengadu nasib menjadi sopir angkot, tukang bangunan, pekerja kasar atau nelayan. Salah satunya adalah sahabat dari Abdillah Onim. Namanya Mahmud, serang WNI berusia 26 tahun yang kini menetap di Gaza dan sedang melanjutkan study Sastra Arab di UIG. Beliau adalah seorang hafidz Quran dan telah menyelesaikan studi S2 Tafsir Alquran, dan kini sedang menyusun Disertasi Doktor.

“Puluhan lamaran sudah saya ajukan ke berbagai kantor dan universitas di Gaza. Saya melamar untuk menjadi dosen, namun lagi-lagi belum ada lowongan. Saat menyelesaikan S1 dan S2, saya harus kerja serabutan. Tak pelak saya menawarkan diri menjadi kuli cat trotoar dan kuli bangunan," katanya seperti dilanris suarapalestina.id, hari ini.

"Hasilnya, saya gunakan untuk menafkahi anak istri serta biaya penyelesaian skripsi saya. Bagi saya, apapun pekerjaanya, yang penting halal. Namun, saya merasa sedih karena ilmu yang saya miliki belum bisa saya tularkan ke generasi baru di Gaza Palestina. Padahal, saya termasuk mahasiswa berprestasi dengan nilai IPK 99,9. Ya, mungkin belum nasib saya,” tambah Mahmud.   

Blockade Israel atas Gaza yang telah berlangsung lebih dari 10 tahun adalah penyebab utama tidak tersedianya lapangan pekerjaan di Gaza. Sedangkan setiap tahun univeristas-universitas di Gaza meluluskan puluhan ribu sarjana dari berbagai jurusan. Otomatis setiap tahun jumlah pengangguran dan keluarga miskin semakin meningkat.

Kondisi di atas mendorong kita untuk berusaha dan mencari soluasi agar para mahasiswa berprestasi bisa menjalankan study mereka. Memberikan beasiswa adalah cara yang bisa kita lakukan. Selan itu, pertukarangan mahasiswa sangat penting dilakukan. Umpamanya bertukaran mahasiswa Indonesia dengan mahasiswa Gaza Palestina dipelopori oleh Kementrian Pendidikan atau Kementrian Agama Republik Indonesia. Hal ini telah menolong generasi Palestina terhindar dari keterpurukan dan pengangguran.

Dua hari lalu (24/12) masyarakat Indonesia, melalui Abdillah Onim, telah memberikan bantuan beasiswa kepada mahasiswa miskin berprestasi di Gaza. Program ini bekerja sama dengan Universitas Islam Gaza. Walaupun jumlahnya hanya 30 orang, semoga program ini berjalan rutin agar dapat bekerja sama dengan universitas lain, seperti Universitas al-Azhar Gaza, Universitas Palestina di Gaza dan Univeristas al-Aqsa di Gaza.

sumber : SPNA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement