Senin 20 Mar 2017 09:20 WIB

Warga Ibu Kota Peru Kekurangan Air Minum

Red: Ilham
Antre air minum (ilustrasi)
Foto: AP
Antre air minum (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, LIMA -- Sambil membawa botol, ember, dan bejana lain, ribuan warga di Lima, Peru, menyusuri jalan untuk mencari air minum. Pembatasan atau pemutusan pasokan air telah mempengaruhi ibu kota peru untuk hari kelima berturut-turut.

Bukti nyata dari betapa parahnya krisis ialah kolam di Bundaran Peru, tepat di sebelah Istana Presiden, dikuras hingga kering oleh ratusan orang. Kolam umum lain juga sudah berubah jadi kering, meskipun ratusan truk tangki mengirim air ke seluruh kota tersebut.

Kekurangan air terjadi akibat batu dan lumpur longsor yang telah menimbun Sungai Rimac dan saluran air lain yang menjadi andalan warga Ibu Kota Peru, Lima. Tumpukan benda padat telah mengganggu kemampuan instalasi pengolahan air di La Atarjea di kota tersebut untuk memproses air jadi air minum.

"Kami tak bisa mengirim air keruh, air tanah. Melakukan itu akan mengakibatkan kerusakan permanen," demikian penjelasan Rudecindo Vega, Presiden Instalasi Pengolahan Air di Lima, SEDAPAL, mengenai situasi itu kepada pers.

Namun pasokan air botolan praktis telah hilang dari toko akibat tingginya permintaan. Sementara orang tertentu telah memanfaatkan situasi dan menjual air dengan harga sangat tinggi.

Situasi menjadi kritis di daerah yang lebih banyak penduduk dan pinggir kota, tempat air, yang tidak aman untuk diminum dan biasanya ditimbun di bak untuk digunakan di taman, telah diambil. Perdana Menteri Fernando Zavala, sebagaimana dilaporkan Xinhua, Senin (20/3), telah menyeru warga agar benar-benar hemat air dan menjatah penggunaannya. Pada saat yang sama, ia menyampaikan harapan hujan lebat akan berhenti dan SEDAPAL dapat memulai pemrosesan air lagi.

Meskipun tampaknya bertolak-belakang, Peru memiliki banyak sumber air minum besar. Namun akses ke sumber itu tak menjangkau 30 juta warganya. Delapan juta warga Peru tak memiliki air minum dan harus mengandalkan truk tangki air, dan mereka biasanya tak memperoleh cukup air buat keperluan kebersihan dasar mereka.

Laporan terkini dari Pusat Operasi bagi Keadaan Darurat Nasional pada Sabtu (18/3), malam, memperlihatkan jumlah korban tewas di seluruh negeri tersebut telah naik jadi lebih dari 70, dan cedera 170, sementara sembilan orang hilang. Sebanyak 72.115 orang telah kehilangan rumah mereka, 567.551 orang telah terpengaruh dan 119.084 gedung telah rusak.

Jumlah itu dikhawatirkan bertambah, sebab daerah lain yang terpencil di Peru mulai terhubung dan hujan diperkirakan masih turun sampai April.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement