Ahad 04 Jun 2017 14:03 WIB

Sejarah Hari Ini: Pecahnya Tragedi Tiananmen

Rep: Puti Almas/ Red: Teguh Firmansyah
Tragedi di Lapangan Tiananment, Cina, 1989, adalah sala satu demonstrasi terbesar dalam sejarah Cina.
Foto: AP
Tragedi di Lapangan Tiananment, Cina, 1989, adalah sala satu demonstrasi terbesar dalam sejarah Cina.

REPUBLIKA.CO.ID,  Aksi kekerasan yang lebih dikenal sebagai pembantaian di Lapangan Tiananmen, Beijing, Cina terjadi pada 4 Juni 1989. Saat itu, ratusan hingga ribuan warga sipil yang melakukan aksi unjuk rasa menuntut demokrasi ditembak mati oleh pasukan pemerintah negara.

Sebelumnya, sepanjang 1989 sejumlah aksi protes damai dilakukan oleh para mahasiswa di Negeri Tirai Bambu. Mereka menuntut kebebasan dan demokrasi.

Pemicu demonstrasi yakni naiknya harga kebutuhan pokok yang tinggi. Para mahasiswa mengkritik hanya penguasa Cina serta keluarga dan orang-orang terdekat mereka yang diuntungkan dengan kebijakan ekonomi pemerintah.

Meski aksi unjuk rasa dilakukan tanpa kekerasan dan bentrokan, Pemerintah Cina mengerahkan tentara untuk menghentikan demonstrasi. Pada awalnya, tindakan itu disebut sebagai pendisiplinan yang terkendali. Namun, ada kenyataannya tidak demikian dan membuat korban berjatuhan, hingga 2.000 orang tewas.

Pada 3 Juni 1989, sehari sebelum aksi kekerasan utama dilakukan, tentara telah menyiapkan tank-tank untuk menembakkan senjata. Dari berbagai arah, senjata itu menargetkan orang-orang yang berkumpul di Lapangan Tiananmen.

Banyak di antara korban yang terluka dibawa ke rumah sakit dengan bantuan warga di sekitar lokasi kejadian. Seketika keadaan jadi begitu mencekam karena tidak menyangka tindakan keras yang dilakukan tentara begitu tiba-tiba di tengah aksi protes damai.

Sebelumnya, Pemerintah Cina telah memperingatkan aksi protes yang dilakukan mahasiswa di Lapangan Tiananmen. Sebelum tindakan keras dilakukan, setidaknya para mahasiswa telah berada di sana menggelar unjuk rasa selama tujuh pekan. Mereka semuanya menolak pergi hingga tuntutan untuk reformasi demokrasi di negara itu dapat diwujudkan.

Setelah trgaedi pembantaian terjadi, banyak orang tua korban yang mendirikan organisasi yaitu Ibu-ibu Tiananmen. Selama bertahun-tahun, hingga saat ini mereka menuntut pertanggungjawaban pemerintah atas kejadian tersebut.

Pemerintah Cina juga disebut berupaya membungkam keluarga korban dengan uang. Hingga 22 tahun berlalu, pihaknya terus mengawasi aktivitas organisasi Ibu-ibu Tiananmen secara ketat.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement