Senin 31 Jul 2017 16:05 WIB

Terkait Teror, Polisi Periksa Lima Rumah di Sydney

Red:
abc news
abc news

REPUBLIKA.CO.ID, SYDNEY -- Polisi Australia terus mengumpulkan bukti di lima rumah di Sydney, Senin (31/7) di saat mereka terus berusaha mengungkapkan rencana teror untuk meledakkan sebuah pesawat. Infonya aksi teror itu dilakukan dengan menggunakan bom yang disimpan di dalam alat penghalus daging.

Empat pria sudah ditahan di kantor polisi Sydney di bawah UU khusus terorisme setelah mereka ditahan hari Sabtu.

Menurut keterangan yang diperoleh ABC, kelompok ini berencana menyimpan bom di dalam alat penghalus daging, sebelum membawanya ke dalam pesawat.

A composite image of two men.
Mahmoud Khayat (kiri) dan Khaled Khayat ditahan polisi sebagai bagian dari operasi kontra terorisme di Sydney

Supplied

Seorang sumber senior di kepolisian mengatakan kepada ABC bahwa ayah dan anak Khaled dan Mahmoud Khayat termasuk mereka yang ditahan.

Dua pria lagi Khaled dan Abdul Merhi, juga memiliki hubungan, namun belum diketahui rinciannya.

Walau belum lagi dikenai tuduhan, Kepolisian Federal Australia (AFP) sudah mendapatkan izin dari pengadilan untuk terus menahan mereka, namun polisi harus memberikan alasan kuat untuk menahan kesemua pria itu dalam waktu lama. Keempat orang tersebut bisa ditahan selama beberapa hari sebelum tuduhan khusus akan dikenakan terhadap mereka, dan memberikan kesempatan kepada polisi untuk mengumpulkan lebih banyak bukti lagi.

"Kenyataannya dengan terorisme, kita tidak bisa menunggu, kita tidak bisa menunggu sampai semua teka-teka ini kita kumpulkan." kata Kepala Kepolisian New South Wales, Commissioner Mick Fuller, Ahad (30/7).

"Kami harus melakukan tindakan cepat, karena bila kami salah, maka konsekuensinya sangat serius."

Menurut laporan yang didapat ABC, polisi yakin bahwa mereka sudah menahan semua anggota sel kelompok teror ini.

Masih belum lagi diketahui jenis pesawat apa yang akan disasar merkea, dan kapan serangan akan dilakukan.

Menteri Kehakiman Australia Michael Keenan mengatakan hari Senin (31/7) bahwa "ini adalah perencanaan yang cukup canggih."

"Ini adalah rencana untuk menjatuhkan sebuah pesawat, dengan menyeludupkan sebuah alat ke dalamnya, guna memungkinkan hal tersebut terjadi." katanya.

Perdana Menteri Malcolm Turnbull mengatakan rencana itu sudah dalam taraf 'lanjut' dan dimotivasi 'pandangan islam yang ekstrim."

"Polisi akan menuduh bahwa mereka berniat dan memiliki kemampuan untuk melakukannya."

Polisi Terus Mencari Bukti

Men near a group of bins.
Polisi terus menggeledah rumah di Lakemba.

ABC News: Jessica Kidd

Polisi mengatakan mereka akan melakukan pemeriksaan di beberapa properti ini sedikitnya sampai dua atau tiga hari ke depan.

Lima rumah yang terletak di Surry Hills dan Lakemba, Wiley Park dan Punchbowl sedang diperiksa oleh polisi NSW dan Polisi Federal.

Menurut keterangan yang diperoleh ABC, para penyelidik menemukan beberapa bahan yang digunakan untuk membuat bom ketika mereka menggerebek rumah di Surry Hills.

Seorang wanita yang meninggalkan rumah tersebut membantah mereka memiliki hubungan dengan terorisme.

PM Turnbull mengucapkan terima kasih kepada para penumpang yang harus bersabar karena adanya peningkatan penjagaan keamanan di bandara.

Ketika ditanya apakah ada kemungkinan bahwa bom bisa dibawa masuk ke dalam pesawat lewat mereka yang bekerja di bagian katering atau pengiriman barang, Turnbull menjawab: "Sejauh ini bandara sudah memiliki penjagaan yang ketat mengenai orang-orang yang bekerja di sana."

Tingkat ancaman teroris secara nasional ditetapkan di level 'probable (mungkin)' di bulan September 2014, dan tidak berubah meskipun ada penggerebekan di akhir pekan. "Probable" adalah di tingkat ketiga dari lima skala ancaman.

Sejak tahun 2014, sudah ada 70 orang yang dikenai tuduhan dari 31 operasi kontra terorisme di seluruh Australia.

"Saya bisa memberikan jaminan kepada warga Australia bahwa kita memiliki badan keamanan dan intelejen terbaik di dunia, dan kami berhasil menggagalkan rencana ke-13 sejak tahun 2014." kata Turnbull.

Diterjemahkan pukul 16:00 AEST 31/7/2017 oleh Sastra Wijaya dan simak beeritanya dalam bahasa Inggris di sini

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ABC News (Australian Broadcasting Corporation). Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ABC News (Australian Broadcasting Corporation).
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement