Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

Sebastian Kurz, Pemuda Milenial Anti-Islam yang Bakal Jadi Kanselir Austria

Senin 16 Oct 2017 13:28 WIB

Red: Ani Nursalikah

Pemimpin People's Party Austria Sebastian Kurz bersama kekasihnya Susanne Thier setelah memberi suara di pemilu parlemen di Wina, Austria, Ahad (15/10).

Pemimpin Peoples Party Austria Sebastian Kurz saat berbicara kepada jurnalis di Wina, Austria, Ahad (15/10).

Foto:

Baik People's Party atau Freedom Party sama-sama memiliki agenda anti-Islam dan anti-imigran. Dikutip dari Aljazirah, Pemimpin Freedom Party Heinz-Christian Strache mengatakan Islam tidak layak berada di Austria dan tidak menginginkan adanya islamisasi di kampung halamannya.

Kurz yang tak pernah menyelesaikan kuliahnya di jurusan hukum ini dikenal dengan kebijakannya yang anti-imigran, terutama imigran Muslim. Dia mengambil langkah keras terkait imigrasi saat berkampanye.

Isu imigran masih menjadi isu seksi di Austria. USA Today menyebut negara dengan penduduk 8,7 juta ini menyerap 90 ribu pengungsi yang sebagian besar menyelamatkan diri dari perang sipil di Suriah pada 2015.

Austria merupakan pintu masuk menuju Jerman bagi satu juta pengungsi dari Timur Tengah dan negara lain. Banyak pemilih merasa negaranya terlalu banyak menerima imigran.

Kurz membatasi sejumlah manfaat untuk pengungsi dan mewajibkan mereka belajar bahasa Jerman. Dia juga secara konsisten mengingatkan pemilih bahwa dia menentang pembukaan perbatasan selama krisis migran 2015 dan berjanji memangkas ruwetnya birokrasi Austria.

Pada awal 2016, Kurz berhasil menggolkan kesepakatan antara Austria dan sejumlah negara Eropa Timur yang berujung pada penutupan rute migrasi melalui Balkan. Tindakan itu mampu menurunkan signifikan jumlah pengungsi yang datang.

Dia mendorong migran agar beradaptasi dengan budaya Austria. Salah satunya dengan mendukung aturan baru larangan pemakaian burqa. Austria kini menerapkan larangan burqa di ruang publik. Dia juga berjanji menutup sekolah Islam.

"Saya takut tinggal di negara dimana perempuan ditekan karena penutup kepala atau apa yang mereka pakai. Saya takut karena saya ingin menjadi dokter," ujar seorang pemilih warga Austria Meri Mohammed kepada Aljazirah.

Kurz dikenal sebagai penggemar selancar angin dan pendaki gunung. Pria yang belum menikah ini datang ke tempat pemungutan suara di Wina pada Ahad (15/10) dengan ditemani kekasihnya Susanne Thier. Pegawai Kementerian Keuangan tersebut dilaporkan pertama kali bertemu Kurz saat Kurz berusia 18 tahun.

sumber : AP/Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA