Kamis 26 Oct 2017 05:48 WIB

Di Balik Mudahnya Jual Beli Organ Manusia di AS

Rep: Dyah Ratna Meta Novia/ Red: Teguh Firmansyah
Ginjal
Ginjal

REPUBLIKA.CO.ID, ASTOWNSEND --  Cody Saunders lahir pada 1992 dengan gagal ginjal dan sebuah lubang di hatinya. Ketika meninggal pada hari ulang tahunnya yang ke-24, dia telah menjalani 66 operasi dan lebih dari 1.700 putaran dialisis.

Menurut orangtua Cody, beberapa hari, ia menyembunyikan rasa sakitnya dengan selfie optimistis di Facebook. Namun pada hari-hari lain, dia berbagi kenyataan yang menyiksa, berpose di ranjang rumah sakit dengan perban di dadanya yang terluka.

Di profil Facebooknya, Cody menulis bahwa ia sedang mencari pacar yang akan menerima dia apa adanya. "Saya benar-benar jelek," kata Cody pada Hari Natal 2015.

Cody tinggal bersama orang tuanya di sebuah rumah trailer di sebuah perkemahan di Tennessee Timur. Ketika dia sudah cukup sehat, dia bekerja di sebuah peternakan dengan ayahnya, memberi makan ternak, memasang jerami, mengangkut sisa tebu dengan truk sampah dari satu gudang ke gudang lainnya.

Pada tanggal 2 Agustus 2016, Cody meninggal dunia setelah serangan jantung dalam perjalanan pulang dari dialisis. Terlalu miskin untuk mengubur atau mengkremasinya, orangtua Cody menyumbangkan tubuh anak mereka ke sebuah organisasi bernama Restore Life USA.

Sebuah organisasi yang menjual jenazah secara keseluruhan atau sebagian kepada peneliti, universitas, fasilitas pelatihan medis dan lain-lain. "Saya tidak mampu membayar," kata ayah Cody, Richard, Rabu, (25/10).

Sebulan setelah Cody meninggal, Restore Life menjual sebagian tubuh pemuda tersebut yakni tulang belakang servikalnya. Transaksi hanya membutuhkan beberapa pertukaran email dan uang 300 dolar AS, ditambah pengiriman.

Restore Life sepertinya tak memastikan pembeli dengan baik. Jika Restore Life memverifikasi identitas pembeli mereka, mereka akan tahu bahwa pembelinya adalah seorang reporter dari Reuters.

Kantor berita tersebut berusaha untuk menentukan seberapa mudahnya membeli bagian tubuh manusia dan apakah bagian-bagian itu akan berguna untuk penelitian medis.

Selain membeli tulang belakang, Reuters kemudian membeli dua kepala manusia dari Restore Life, masing-masing berharga 300 dolar AS. Transaksi yang sangat mudah ini sangat mengejutkan, bagaimana  jual beli bagian tubuh manusia begitu mudahnya terjadi di Amerika Serikat.

Meskipun selama ini ilegal menjual organ yang digunakan untuk transplantasi, namun legal di kebanyakan negara bagian untuk menjual bagian tubuh yang disumbangkan untuk penelitian atau pendidikan. Membeli anggur melalui internet kontrolnya lebih ketat, umumnya membutuhkan bukti usia minimum.

Namun ternyata jual beli bagian tubuh manusia malah jauh lebih mudah daripada beli anggur.Untuk memenuhi pertimbangan hukum, etika dan keselamatan sebelum melakukan pembelian.

Reuters berkonsultasi dengan Angela McArthur yang mengarahkan program sumbangan tubuh di University of Minnesota Medical School. McArthur segera mengambil alih tulang belakang dan kepala yang dibeli Reuters, memeriksa dan menyimpannya di sekolah kedokteran.

Ia mengatakan, merasa terganggu dengan betapa mudahnya bagian-bagian tubuh manusia diperoleh dan menyesalkan kegagalan Restore Life melakukan pengecekan pembelinya dengan tepat.

"Ini seperti dunia barat yang liar. Siapapun bisa memesan spesimen ini dan meminta mereka dikirim ke rumah mereka untuk tujuan apa pun yang mereka inginkan," ujar McArthur.

McArthur memeriksa sisa-sisa bagian tubuh manusia tersebut dan dokumentasi yang disertakan untuk menentukan seberapa berguna bagian-bagiannya untuk penelitian medis.

Kajiannya didasarkan pada standar keselamatan dan etika nasional yang dia  buat untuk American Association of Tissue Banks, American Association of Clinical Anatomists and University of Minnesota.

Dia menyimpulkan bahwa riwayat medis yang diberikan Restore Life tidak mencukupi, dan bahwa dokumen yang menyertainya ceroboh dan tidak memadai.

Untuk alasan itu, spesimen tidak memenuhi standar untuk digunakan di universitasnya."Saya belum pernah melihat kejadian mengerikan ini sebelumnya. Saya khawatir tentang masa depan sumbangan tubuh dan kepercayaan masyarakat akan sumbangan tubuh saat kita memiliki situasi seperti ini," jelas McArthur.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement