Senin 13 Nov 2017 09:35 WIB

Polusi Udara, Pembunuh Diam-Diam di India

Rep: dyah ratna meta novia/ Red: Ani Nursalikah
Siswa India menggunakan sapu tangan sebagai masker untuk melindungi diri dari polusi udara mematikan di New Delhi, India.
Foto: AP Photo/R S Iyer
Siswa India menggunakan sapu tangan sebagai masker untuk melindungi diri dari polusi udara mematikan di New Delhi, India.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI -- Kepala Pulmonologi dan Perawatan Kritis di Rumah Sakit Max di Sakit, New Delhi, India, Prashant Saxena merupakan orang yang sibuk. "Kabut asap ini adalah pembunuh diam-diam. Di tahun-tahun mendatang, efek parah dari udara tercemar ini akan  mematikan," katanya seperti dilansir Aljazirah, Ahad, (12/11).

Ada 20 sampai 25 persen peningkatan pasien darurat dan kenaikan 25 persen jumlah pasien rawat jalan yang mengunjunginya setiap hari sejak kabut asap tebal menyelimuti New Delhi pekan lalu.

"Situasi ini tidak terkendali dan tidak bisa diatur. Terjadi kekurangan tempat tidur, obat-obatan dan perangkat seperti nebuliser," kata Saxena.

Badan dokter di negara tersebut, Indian Medical Association (IMA), meminta warga tetap berada di dalam rumah dan mengumumkan keadaan darurat kesehatan masyarakat setelah terjadinya polusi terburuk selama bertahun-tahun. New Delhi adalah kota paling tercemar di dunia, dan pembakaran tanaman oleh petani di negara-negara tetangga dan polusi industri telah memperburuk situasi.

Tingkat indeks polusi PM 2.5 meningkat menjadi 703 pada 7 November. Ini lebih dari dua kali lipat dari 300 yang merupakan tanda berbahaya.

Polusi udara yang parah ini memaksa pihak berwenang untuk sementara menutup sekolah-sekolah. Polusi udara parah berkaitan dengan penyakit paru-paru dan jantung. Indeks polusi tetap di atas 500 pekan ini.

Partikel kecil polusi bisa masuk ke dalam paru-paru dan aliran darah. Pasien yang mengantre di rumah sakit pemerintah dan swasta datang dengan penyakit seperti penyakit paru obstruktif kronis, asma, bronkitis kronis, pneumonia, alergi hidung, mata dan kulit.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement